Anda di sini

Filsafat Hidup

Apanya yang Salah Dengan Memakan Daging

Aditya Suranata - 12 Agustus 2016 17:37:53 0

Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca artikel ini karena kamu akan mengetahui beberapa pengetahuan penting yang berkaitan dengan makanan dari daging hewani. Pada akhirnya ini semua adalah untuk kebaikan mu sendiri dan kebaikan untuk seluruh alam beserta isinya.

Pada umumnya orang-orang akan bertanya, apanya yang salah dengan memakan daging?

Setiap mahluk hidup memiliki tujuan khusus atas kelahiran atau keberadaannya di dunia ini. Tujuan itu, pastinya, bukanlah sekedar untuk dibunuh dan dimakan oleh yang lain. Dalam Bhagavad Gita, Sri Krsna berkata:

sarva-yonishu kaunteya, murtayah sambhavanti yah. tasam brahma mahad yonir, aham bija-pradah pita (BG, 14.4)

"Hendaknya dimengerti bahwa segala jenis kehidupan dimungkinkan oleh kelahiran di alam material ini, dan bahwa Akulah ayah yang memberi benih, wahai putera Kunti."

Itu berarti bahwa seekor binatang juga memiliki roh/atma, sehingga kita tidak memiliki hak untuk membunuh atau memakan dagingnya. Sama halnya dengan adanya hukum dari pemerintah, maka ada juga yang namanya hukum alam, atau Hukum Tuhan. Jika kita membunuh maka hal itu akan mengikat kita dengan Karma, dan kita akan mendapatkan reaksinya. Perumpamaan dari Karma berarti "Untuk setiap aksi terdapat reaksi setara yang berlawanan". Jadi meskipun kita melakukan karma baik atau karma buruk, dua-duanya mengakibatkan kita mengikatkan diri kita lebih kuat lagi ke dunia material ini. Begitu pula ketika kamu melihat hidangan daging yang lezat di atas piring, hal itu bukan berarti semuanya baik-baik saja, ada banyak kekejaman yang terjadi sebelum kamu melihat produk akhir yang telah terhidang itu. Sri Krsna berkata bahwa Beliau adalah ayah yang asli dari semua entitas hidup (aham bija-pradah pita BG, 14.4), yang artinya kita tidak memiliki hak apapun untuk membunuh siapapun. Jika kita tidak memiliki hak untuk memberikan kehidupan kepada mahluk hidup maka kita juga tidak memiliki hak untuk membunuh mereka secara sewenang-wenang. Seorang Penyembah Tuhan penuh dengan perasaan iba sehingga ia tidak bisa melihat seseorang menderita, bahkan para binatang sekali pun.

Orang-orang juga selanjutnya akan bertanya, tapi Saya tidak benar-benar membunuh binatangnya tapi hanya memakan, apakah hal itu juga termasuk salah?

Kitab Manu Samhita memberitahu kita bahwa semua orang mendapatkan reaksi karena telah terlibat dengan daging: -

Naakrtvaa praaninaam himsaam maamsamutpadyate kvachit. Na cha praanivadhah svargyastamaanmaamsam vivarjayet. (MS 5.48)

Anumantaa vishasitaa nihantaa krayavikrayii. Samskartaa chopahartaa cha khaadakashchetighaatakaah (MS 5.51)

Daging dari binatang-binatang didapatkan hanya setelah membunuhnya, yang mana adalah sebuah dosa, dan si pembunuh dari para binatang itu tidak akan masuk ke tempat tinggal surgawi.

Mereka-mereka yang terlibat dalam pembunuhan, yang mengijinkan pembunuhan, membantu, membawa, menjual, membeli, memasak dan memakan daging dari seekor binatang adalah sama dosanya dengan membunuh binatang itu.

Orang yang memakan daging juga terlibat dan di satu sisi mendukung pembunuhan tersebut. Sebagai contoh jika beberapa perampok pergi untuk merampok sebuah rumah, dan seorang dari mereka hanya berdiri diluar rumah untuk mengawasi dan beberapa lainnya memasuki rumah untuk mencurinya, dan ketika mereka tertangkap, semuanya akan mendapatkan hukuman oleh hukum yang berlaku, karena meskipun orang itu berada diluar dan tidak ikut ke dalam, bagaimana pun juga ia mendukung aksi kriminal tersebut. Begitu juga, seseorang yang memakan daging juga terlibat dan patut untuk mendapatkan hukuman.

Tumbuh-tumbuhan dan sayur mayur juga adalah mahluk hidup, jadi apakah tidak dosa juga jika membunuh mereka untuk makanan?

Penjelasan ini dipaparkan dalam Srimad Bhagavatam (3.29.15) dijelaskan oleh acarya Srila Prabhupada:

"Terkadang pertanyaannya ditempatkan di depan kita: "Kamu meminta kami untuk tidak memakan daging, tapi kamu memakan tumbuh-tumbuhan. Apa kamu pikir hal itu bukanlah kekejaman juga?" Jawabannya adalah dengan memakan sayur-mayur kita juga melakukan kekejaman, dan vegetarian juga melakukan kekejaman terhadap entitas hidup lainnya karena tumbuh-tumbuhan yang mereka makan juga memiliki kehidupan. Orang yang bukan penyembah membunuh sapi-sapi, kambing dan banyak lagi hewan lainnya untuk tujuan memuaskan lidahnya, dan seorang penyembah, yang mana adalah seorang vegetarian, juga membunuh. Tapi disini, dengan tegas, dinyatakan bahwa setiap mahluk/entitas hidup harus bertahan hidup dengan membunuh entitas lainnya; itu adalah hukum alam. Jivo jivasya jivanam: satu mahluk hidup adalah kehidupan untuk mahluk hidup lainnya. Tapi untuk manusia, kekejaman tersebut harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan seperlunya saja.

Manusia tidak memakan apapun yang tidak dipersembahkan kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Yajna-sistasinah santah: seseorang menjadi bebas dari semua reaksi dosa dengan memakan makanan yang telah dipersembahkan untuk Yajna, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Seorang penyembah maka dari itu juga hanya memakan prasadam/paica, atau makanan yang telah dipersembahkan kepada Penguasa Tertinggi, dan Sri Krsna berkata bahwa ketika seorang penyembah mempersembahkan makanan dari golongan sayur mayur kepadaNya, dengan disertai pengabdian, maka Beliau akan menerimanya. Seorang penyembah mempersembahkan makanan yang disiapkan dari sayur mayur. Jika Penguasa Tertinggi menginginkan makanan yang disiapkan dari makanan hewani, penyembah bisa saja mempersembahkannya, namun Beliau tidak meminta untuk melakukan itu.

Jadi memang benar, bahkan tumbuhan dan sayur mayur pun memiliki roh dan membunuh mereka secara tidak semestinya untuk kepuasan indria dan nafsu sendiri akan menyebabkan dosa, itulah mengapa sangat dianjurkan untuk mempersembahkan makanan vegetarian kepada Sri Krsna terlebih dahulu lalu kemudian memakan makanan itu sebagai Prasadam atau karunia. Sri Krsna dapat melakukan apapun sehingga Beliau dapat merubah makanan yang dipersembahkan padaNya menjadi makanan spiritual, ini akan membebaskan kita dari reaksi dosa dan karma.

Memakan makanan yang hanya dipersembahkan kepada Krsna adalah kesempurnaan utama dari makanan vegetarian. Lagi pula, merpati dan monyet juga vegetarian, jadi menjadi vegetarian saja bukanlah pencapaian yang terbesar. Sastra Weda mengajarkan kita bahwa tujuan dari kehidupan dalam wujud manusia adalah untuk mengembangkan kesadaran mengenai hubungan kita dengan Tuhan, dan hanya ketika kita melampaui vegetarianisme hingga ke prasadam proses makan kita dapat membantu mengantarkan kita mencapai tujuan utama ini.

Apakah binatang memiliki roh?

Srila Prabhupada: Beberapa orang berkata, "Kami percaya bahwa para binatang tidak punya roh." Itu sama sekali tidak benar. Mereka percaya binatang tidak punya roh disebabkan karena mereka ingin memakan binatang-binatang itu, tapi sebenarnya para binatang itu tentunya punya roh.

Reporter: Bagaimana Anda bisa tahu kalau binatang punya roh?

Srila Prabhupada: Kamu juga bisa tahu. Inilah bukti ilmiahnya... binatang makan, kamu makan; binatang tidur, kamu tidur; binatang bertahan hidup, kamu juga bertahan hidup, binatang berhubungan badan, kamu berhubungan badan; binatang punya anak, kamu punya anak, mereka punya tempat tinggal, kamu juga punya tempat tinggal. Jika badan binatang dipotong, keluar darah; jika badan mu di potong, juga keluar darah. Jadi, semua kemiripan itu ada. Sekarang, mengapa kamu menolak satu kecocokan ini, hadirnya sang roh? Itu tidaklah logis. Kamu telah belajar logika? Dalam logika ada yang dinamakan dengan analogi. Analogi berarti menggambarkan kesimpulan dengan menemukan berbagai titik temu yang sama. Jika terdapat banyak titik temu yang sama antara manusia dan binatang, mengapa menolak satu kecocokan? Itu tidaklah logis. Itu bukanlah suatu hal yang ilmiah. Science of Self-Realization (pp. 35-36).

Di sebuah biara peristirahatan dekat Paris, bulan Juli 1973, Srila Prabhupada berbincang dengan Cardinal Jean Danielou: "... Alkitab tidak hanya mengatakan, 'Jangan membunuh sesama manusia.' Namun juga dikatakan secara luas, 'Haruslah engkau jangan membunuh.'... mengapa kamu mengartikan ini dengan tujuan untuk menyocokan kenyamanan mu sendiri?"

Murid: Srila Prabhupada, Umat Kristian mengukuhkan untuk memakan daging berdasarkan pandangan bahwa spesies dari kehidupan yang lebih rendah tidak memiliki roh seperti manusia.

Srila Prabhupada: Itu adalah kebodohan. Pertama-tama, kita mesti memahami bukti dari adanya sang roh di dalam badan kita. Kemudian kita dapat melihat apakah manusia memiliki roh dan sapi tidak punya. Apa perbedaan karakteristik dari sapi dan manusia? Jika kita tidak menemukan perbedaan dalam karakteristik-karakteristik itu, lalu bagaimana kamu dapat mengatakan bahwa binatang tidak memiliki roh? Gejala umumnya adalah bahwa binatang makan, kamu makan; binatang tidur, kamu tidur; binatang kawin, kamu kawin; binatang bertahan, kamu bertahan. Dimanakah perbedaannya?

Cardinal Danielou: Kami mengakui bahwa pada binatang terdapat banyak eksistensi biologis seperti yang ada pada manusia, tapi tidak ada rohnya. Kami percaya bahwa sang roh adalah roh manusia.

Srila Prabhupada: Bhagavad-gita kami mengatakan sarva-yonisu, "Dalam semua spesies kehidupan terdapat sang roh." Badan itu mirip dengan setelan pakaian. Kamu punya setelan hitam. Saya berpakaian dengan warna saffron/oranye kunyit. Tapi di dalam pakaian ini kamu adalah manusia, dan saya juga manusia. Sama juga, badan dari spesies-spesies lainnya adalah sama halnya dengan tipe-tipe lain dari pakaian. Disana ada sang roh, bagian dan percikan dari Tuhan. Anggap seorang pria punya dua anak laki-laki, tidak memiliki strata yang sama. Satunya mungkin seorang Hakim Agung dan yang satunya lagi hanya seorang buruh biasa, tapi ayahnya tetap mengklaim keduanya sebagai anak-anaknya yang terkasih. Dia tidak membeda-bedakan anaknya, bahwa anak yang bekerja sebagai hakim lebih penting dan anaknya yang buruh tidak penting. Dan jika anak yang jadi hakim berkata, "O Ayahku tercinta, anak mu yang lagi satu itu tidak berguna; biarlah aku memotongnya dan memakannya," apakah sang ayah akan membolehkan hal itu?

Cardinal Danielou: Tentu saja tidak, tapi gagasan bahwa semua kehidupan adalah bagian dari kehidupan Tuhan sangat sulit bagi kami untuk akui. Terdapat perbedaan besar antara kehidupan sebagai seorang manusia dan kehidupan seekor binatang.

Srila Prabhupada: Perbedaan tersebut dikarenakan oleh perkembangan dari kesadaran. Pada badan manusia terdapat kesadaran yang telah berkembang. Bahkan sebatang pohon juga memiliki roh, tapi kesadaran yang dimiliki oleh pohon belum cukup berkembang. Jika kamu memotong sebatang pohon ia tidak akan menahan. Sebenarnya, ia menahan, tapi hanya dengan derajat yang amat kecil. Ada ilmuan bernama Jagadish Chandra Bose yang mana telah membuat mesin yang dapat memperlihatkan bahwa pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan mampu merasakan sakit ketika mereka dipotong. Dan kita dapat melihat secara langsung bahwa ketika seseorang sedang membunuh seekor binatang, mereka akan melawan dan menahan, mereka menangis, mereka mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan sebagai tanda kesakitan. Jadi semua itu hanya tentang seberapa besar perkembangan dari kesadaran mereka. Tapi yang pasti adalah sang roh ada di setiap mahluk hidup.

Cardinal Danielou: Tapi secara metafisika, kehidupan seorang manusia itu disakralkan. Manusia berpikir pada tingkatkan yang lebih tinggi daripada yang dilakukan binatang.

Srila Prabhupada: Tingkatan lebih tinggi yang bagaimana? Binatang makan untuk memelihara badannya, dan kamu juga makan untuk memelihara badan mu. Sapi makan rumput di ladang, dan manusia makan daging dari rumah pemotongan hewan yang besar dengan berbagai mesin-mesin moderen. Tapi hanya karena kamu memiliki mesin-mesin besar dan pemandangan yang mengerikan, sementara binatang cukup hanya makan rumput, itu bukan berarti bahwa kamu itu punya derajat yang jauh lebih tinggi sehingga hanya di badan mu saja sang roh itu ada dan bahwa tidak ada roh di dalam badan dari para binatang. Itu tidaklah logis. Kita dapat melihat bahwa karakteristik dasarnya adalah sama antara binatang dan manusia.

Cardinal Danielou: Tapi hanya dalam wujud manusia kita dapat menemukan pencarian metafisika untuk memahami arti dari hidup.

Srila Prabhupada: Iya. Jadi secara metafisika cari tahu lah mengapa kamu percaya bahwa tidak ada roh di dalam badan binatang--itulah metafisika. Jika kamu berpikir secara metafisika, itu semua benar. Tapi jika kamu berpikir layaknya seekor binatang, maka apa sebenarnya kegunaan dari pelajaran metafisika mu? Metafisika berarti "diatas fisika" atau, dengan kata lain, "spiritual". Dalam Bhagavad-gita Krsna berkata, sarva-yonisu kaunteya: "Pada setiap mahluk hidup terdapat sang roh." Itu adalah pemahaman metafisika. Sekarang baik kamu menerima pengajaran Krsna sebagai metafisika, atau kamu akan menerima kebodohan kelas tiga SD sebagai metafisika. Yang manakah yang kamu terima?

Cardinal Danielou: Tapi mengapa Tuhan menciptakan beberapa binatang yang memakan binatang lainnya? Ada kesalahan dalam penciptaan, sepertinya.

Srila Prabhupada: Itu bukanlah sebuah kesalahan. Tuhan sangatlah baik. Jika kamu ingin memakan binatang-binatang, maka Beliau akan memberikan mu fasilitas penuh. Tuhan akan memberi mu badan berbentuk seekor macan dalam kehidupan mu selanjutnya sehingga memungkinkan mu untuk memakan daging dengan leluasa. "Wahai anak ku, mengapa kamu susah-susah menjalankan rumah penyembelihan? Aku akan memberi mu taring dan cakar. Sekarang makanlah." Jadi para pemakan daging menunggu suatu penghukuman. Para pemakan binatang menjadi seekor macan, serigala, kucing, dan anjing pada kehidupan mereka selanjutnya--untuk mendapatkan fasilitas lebih."

Science of Self -Realization, Chapter 4

Apa yang Bhagavad-gita beritahu kepada kita mengenai makanan mana yang layak kita makan?

Kita mesti memahami bahwa makanan dikelompokan menjadi 3 kategori lain berdasarkan Sifat-sifat Alam atau Tri Guna, yang diantaranya adalah: Kebaikan, Nafsu, dan Kebodohan/Kegelapan. Sloka berikut ada dalam Bhagavad Gita:-

BG 17.8: Makanan yang disukai oleh orang dalam sifat kebaikan memperpanjang usia hidup, menyucikan kehidupan dan memberi kekuatan, kesehatan, kebahagiaan dan kepuasan. Makanan tersebut penuh sari, berlemak, bergizi dan menyenangkan hati.

BG 17.9: Makanan yang terlalu pahit, terlalu asam, terlalu asin, panas sekali atau menyebabkan badan menjadi panas sekali, terlalu pedas, terlalu kering dan berisi terlalu banyak bumbu yang keras sekali disukai oleh orang dalam sifat nafsu. Makanan seperti itu menyebabkan dukacita, kesengsaraan dan penyakit.

BG 17.10: Makanan yang dimasak lebih dari tiga jam sebelum dimakan, makanan yang hambar, basi dan busuk, dan makanan terdiri dari sisa makanan orang lain dan bahan-bahan haram disukai oleh orang dalam sifat kegelapan.

Daging masuk dalam kategori kebodohan, ia adalah makanan tamasik. Apapun makanan yang kita makan akan berdampak pada kesadaran kita. Memakan daging memicu kualitas kebodohan. Dalam sifat Kebodohdan kehidupan spiritual kita akan menjadi sangat sulit untuk dikembangkan, pikiran kita tidak akan mampu fokus, dan terdapat pula reaksi karma buruk yang mesti kita rasakan, mungkin saja pada kehidupan ini, setelah mati atau di kehidupan selanjutnya.

Makan daging menyebabkan efek yang buruk pada kehidupan spiritual kita dan kita berada dalam bahaya yang menyebabkan kita menjadi budak dari indera kita sendiri, yang mana tidak akan pernah terpuaskan. Dan kemudian pada kehidupan selanjutnya sangat mungkin kita akan bertemu dengan binatang yang telah kita makan dan bunuh. Tapi ketika itu terjadi, merekalah yang akan menjadi manusia dan kita yang menjadi binatangnya. Di dunia ini kita tidak bisa melakukan semua hal tanpa berhubungan dengan reaksi dari karma kita. Apa yang telah kita lakukan pada yang lain, kita harus melakukannya pada diri kita sendiri. Itulah karma.

Apa Karakteristik dari 3 Sifat Alam dan apa yang diakibatkannya?

Sifat dalam KEBAIKAN

Pengetahuan, kepuasan dalam diri sendiri dan kegembiraan, kemurnian, kebersihan, welas asih, kendali diri (berdasarkan pada pengetahuan), toleransi, kesabaran, pikiran dan indera yang terkendali, rasa tanggung jawab, kepedulian, kemurahan hati, kejujuran, kesederhanaan (sakit dulu untuk tujuan yang lebih tinggi), kebijaksanaan, keagamaan, kerendahan diri, kebiasaan yang teratur (trmsuk tidur, makan dll), terorganisir dengan baik, kukuh dalam tujuan, berprilaku baik, pemaaf, berpikiran simpel, penuh karunia, terpuaskan, damai, hormat dengan yang lain.

Yaitu: Ketidakegoisan

Sifat dalam KENAFSUAN

Indera-indera dan pikiran yang gelisah, aktifitas intense untuk memenuhi keinginan dari pikiran/indera, nafsu (msl. cinta yg ambisius), keinginan kuat untuk kesenangan indera dan badan, keserakahan, keingingan yang tiada habisnya, tak pernah terpuaskan, gairah, keegoisan, ego/kebanggaan/kesombongan, pemuliaan diri sendiri, bertindak untuk kesenangan langsung tanpa berpikir konsekuensinya, mendambakan kemudian meratapi, mengharapkan/meminta penghormatan pada diri sendiri, terikat terlalu kuat dan secara berlebihan pada badan sendiri dan kerabat.

Yaitu: Aku, aku, aku, keegoisan dan keakuan palsu.

Sifat KEBODOHAN/KEGELAPAN

Iri hati, kebencian, pendendam (tidak memaafkan), kegilaan, kebodohan, pembunuhan yang tidak diperlukan atau pertumpahan darah atau kekejaman, kemarahan, kemalasan, tidur terlalu banyak/sedikit, khayalan, ketidaktahuan, tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah, terlalu kritis, semrawut, tidak bersih, terlalu terikat, stress yang tidak terkontrol, ketakutan, berhati batu, kebinatangan, depresi, penyakit, cinta yang mengekang dan obsesif, keganasan, keiblisan, kekerasan, tidak hormat pada apapun, penyiksaan, kebohongan, kecurangan, tanpa belas kasih, kasar (fisik atau verbal), sombong.

Yaitu: Kualitas destruktif

Itulah Karakteristik yang mana kita bisa kembangkan dengan bergaul dengan sifat-sifat tertentu. Makan daging dapat menjuruskan kita ke kualitas destruktif.

Bagaimana dengan orang-orang yang ingin meneruskan memakan daging?

Ada larangan yang sangat ketat jika seseorang ingin memakan daging, misalnya:

Seseorang mesti menyembah Dewi Kali Maa karena beliau menerima daging sebagai suatu persembahan. Sebenarnya ini hanyalah suatu konsesi. Ini diperuntukan hanya untuk mereka yang sangat kecanduan hingga mereka tidak dapat berhenti. Prosesnya adalah sekali selama sebulan, pada malam bulan mati (tilem), mereka diperbolehkan mengambil binatang yang lebih rendah, seperti kambing/babi, dan mereka membawanya ke pinggiran desa, dimana tidak terdapat orang lain disekitarnya, atau di halaman kuil (dari Kali Maa), dan kemudian mereka berkidung "Mam sa khadatiti mamsah" ... yaitu "apapun yang aku lakukan pada mu, kamu bisa melakukannya pada ku pada kehidupan ku berikutnya". Kemudian mereka secara personal mesti menggorok binatang tersebut di bagian lehernya.

Mam sa khadatiti mamsah. Kata sansekertanya adalah mamsa. Mam artinya "aku", dan sa artinya "dia." Aku membunuh binatang ini; Aku memakannya. Dan pada kehidupan ku yang selanjutnya dia akan membunuh dan memakan ku. Ketika binatang tersebut dikorbankan, mantra ini diucapkan ke telinga dari binatang itu--"Kamu memberikan hidup mu, jadi pada kehidupan mu selanjutnya kamu akan mendapatkan kesempatan untuk meningkat dan menjadi manusia. Dan aku yang sekarang membunuh mu akan menjadi seekor binatang, dan kamu akan membunuh ku."

Jadi suatu hari nanti orang itu akan bangun... berdiam sejenak... apa yang telah aku lakukan pada mu, kamu bisa melakukannya pada ku... TIDAK! Aku tidak mau dibunuh lagi oleh mu pada kehidupan ku selanjutnya. Lagi pula setelah memahami arti sebenarnya dari mantra ini, siapa yang siap untuk membunuh binatang lagi?

Proses dari pemujaan Dewi Kali Maa ini adalah untuk orang-orang yang memiliki tingkat kesadaran yang lebih rendah, dalam sifat kebodohan. Orang-orang dengan tingkat kesadaran yang lebih tinggi tidak berkeinginan untuk membunuh jenis binatang apapun karena mereka tahu bahwa terdapat sang roh yang hadir di badan itu, dan bahwa para binatang dapat merasakan rasa sakit yang luar biasa pada detik-detik menjelang ajalnya. Sehingga mereka memilih untuk memakan banyak makanan dari jenis lain, yang mana bebas dari berbagai jenis darah atau daging, dan terbebas dari jenis penyembelihan apapun.

Mereka berkata, kamu adalah apa yang kamu makan. Jadi jika kita makan daging, kita mengembangkan kualitas kebinatangan. Lagi pula mengapa kamu ingin menjadikan perut mu kuburan bagi para binatang yang telah kamu makan hanya untuk memuaskan lidah? Pikirkanlah mengenai hal itu.

Telah dengan sangat jelas dinyatakan dalam sastra Weda bahwa para pelaku kekejaman yang membunuh binatang yang lugu sudah bisa dipastikan akan dibunuh di kehidupan selanjutnya melalui proses yang sama pula.

mam sa bhaksayitamutra yasya mamsam ihadmy aham etan mamsasya mamsatvam pravadanti manisinah

"Mahluk itu yang dagingnya aku makan di sini dan di waktu ini akan memakan ku di kehidupan selanjutnya.' Jadi daging disebut mamsa (sebagai tindakan berulang: Aku memakan dia, dia memakan ku), sebagaimana dijelaskan oleh otoritas terpelajar." Dalam Srimad-Bhagavatam nasib abu-abu dari pembunuh binatang ini dijelaskan dengan gamblang oleh Narada Muni kepada Raja Pracinabarhi, yang secara berlebihan membunuh para binatang dengan tujuan untuk apa yang disebut dengan pengorbanan.

Narada uvaca bho bhoh prajapate rajan pasun pasya tvayadhvare samjnapitan jiva-sanghan nirghrnena sahasrasah

ete tvam sampratiksante smaranto vaisasam tava samparetam ayah-kutais chindanty utthita-manyavah

"Wahai penguasa rakyat, Raja ku yang ku kasihi, mohon lihat di langit binatang-binatang tersebut yang mana telah engkau korbankan, tanpa belas kasihan dan tanpa pengampunan, pada gelanggang kurban. Semua binatang itu sedang menunggu kematian mu sehingga mereka dapat membalas luka-luka yang telah kau akibatkan pada mereka. Setelah engkau meninggal, mereka akan dengan marahnya menembus badan Anda dengan tanduk besi." (SB 4.25.7-8) Hukuman semacam itu untuk pembunuh binatang akan terjadi dengan yuridiksi dari Yamaraja di planet penguasa kematian. Dalam kata lain, seseorang yang membunuh seekor binatang atau yang memakan dagingnya niscaya memperoleh utang pada entitas hidup yang dilibatkannya dalam usahanya untuk memuaskan nafsunya. Si pemakan daging mesti membayar utangnya dengan mengkontribusikan badannya sendiri untuk dimakan di kehidupan selanjutnya. Pembayaran semacam itu diakui dalam sastra Weda.

Apa yang agama lain katakan tentang Memakan Daging?

Sesungguhnya semua agama besar dunia menganjurkan idealnya vegetarianisme:

1. Annushasen Parwa, Mahabarata berkata "Tak diragunakan lagi semua manusia yang lebih memilih daging untuk beberapa jenis makanan sama seperti burung pemakan bangkai."

2. Manusmrti berkata "Semua pendukung dari pemakan daging adalah pendosa." Dan lebih lanjut lagi dinyatakan, "Seseorang yang dagingnya saya makan akan memakan daging saya dalam kehidupan selanjutnya."

3. Agama Kristen juga berkata dalam Genesis (1.29) "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu."

4. Guru Nanak, Pendiri Agama Sikh Faith, berkata "Para pengikutku tidak menerima daging dan wine."

5. Buddha berkata, "Daging diperuntukan bagi mahluk sub-manusia".

6. Acharanga Sutra dari Agama Jain berkata, "Semua mahluk berkeinginan untuk mempertahankan diri, maka dari itu tidak satu pun ciptaan yang layak untuk disembelih."

7. Gandhiji berkata "Saya merasa bahwa kemajuan spiritual menuntut pada suatu tahap tertentu bahwa kita mesti berhenti membunuh mahluk lainnya untuk kepuasan keinginan jasmani kita."

8. Islam, Nabi Muhammad "siapapun yang bersikap baik kepada mahluk-mahluk ciptaan Tuhan, adalah baik kepada dirinya sendiri"

Semua kitab agama besar memerintahkan manusia untuk hidup tanpa membunuh dengan sewenang-wenang. Kitab Perjanjian Lama menginstruksikan, "Haruslah engkau jangan membunuh." (Exodus 20:13) Ini tradisionalnya diartikan dengan salah sebagai rujukan hanya pada pembunuhan sesama manusia. Tapi aslinya Hebrew is lo tirtzach, yang secara jelas diterjemahkan menjadi "Haruslah engkau jangan membunuh." Dr. Reuben Alcalay's Complete Hebrew/English Dictionary mengatakan bahwa kata tirtzach, khususnya dalam penggunaan klasik Hebrew, menjurus pada "pembunuhan jenis apapun," dan tidak hanya berlaku untuk pembunuhan sesama manusia.

Meskipun Kitab Perjanjian Lama berisikan beberapa rekomendasi/resep untuk konsumsi daging, jelas bahwa situasi yang ideal adalah vegetarianisme. Dalam Genesis (1:29) kami menemukan Tuhan Sendiri menyerukan, "'Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu." Dan di bagian selanjutnya dari Alkitab, nabi utama mengutuk konsumsi daging.

Bagi banyak umat Kristiani, batu sandungan utama adalah kepercayaan bahwa Kristus memakan daging dan banyak referensi untuk memakan daging pada Kitab Perjanjian Baru. Tapi kajian seksama dari naskah asli Yunani kuno memperlihatkan bahwa sebagian besar kata-kata itu diterjemahkan menjadi "daging" dan "trophe, brome," dan kata lainnya yang hanya berarti "makanan" atau "memakan" dalan arti yang lebih luas. Sebagai contoh, dalam Injil Lukas (8:55) kita membaca bahwa Yesus menghidupkan seorang wanita dari kematian dan "memerintahkan untuk memberikannya daging." Kata asli dari Yunani yang diterjemahkan menjadi "daging" adalah "phago," yang mana hanya berarti "untuk dimakan." Kata Yunani untuk daging adalah kreas ("flesh"), dan itu tidak pernah digunakan pada kaitannya dengan Kristus. Tidak ada dalam Kitab Perjanjian Baru menyebutkan referensi langsung kepada Yesus memakan daging. Hal ini sejalan dengan nubuat terkenal Yesaya tentang penampilan Yesus, "Sesungguhnya, seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang putra, dan akan memanggilnya dengan nama Emmanuel. Mentega dan madu akan ia makan, bahwa ia mungkin tahu bagaimana cara menolak yang jahat dan memilih yang baik."

Sehingga nabi Muhammad pun berkata (terjemahan Hadis oleh Dr. M.Hafiz Syed), murid-murid nabi Muhammad bertanya kepadanya, "Sesungguhnya adakah penghargaan untuk kami melakukan kebaikan kepada hewan berkaki empat, dan memberikan mereka air untuk mereka minum?" Mumammad menjawab, "Ada penghargaan untuk memberikan manfaat bagi setiap hewan."

Buddha dikenal khususnya dengan pengajaran Beliau melawan pembunuhan binatang. Beliau menegakan ahimsa (tidak menyakiti) dan vegetarianisme sebagai langkah dasar menuju jalan kesadaran diri dan berkata dua kaidah berikut, "Janganlah menjagal para sapi yang telah membantu membajak ladang-ladang," dan "Janganlah memanjakan kerakusan yang melibatkan penyembelihan hewan-hewan."

Sastra-sastra Weda dari India, yang mana telah mendahului Budisme, juga menekankan ahimsa atau tidak menyakiti sebagai dasar keetisan dari vegetarianisme. "Daging tidak akan bisa didapatkan tanpa melukai mahluk-mahluk hidup," dinyatakan dalam, Manu-samhita, kode hukum India kuno, "Maka dari itu biarkan seseorang mengurangi penggunaan daging." Pada bagian lainnya, Manu-samhita memperingatkan "Setelah mempertimbangkan dengan baik sumber menjijikan dari daging dan kekejaman dari keterikatan mereka dalam hal pembunuhan mahluk jasmaniah, maka mereka dapat sepenuhnya menjauhkan diri dari nafsu untuk memakan daging."

Dalam Mahabharata (epos yang berisikan 100.000 ayat dan dikatakan sebagai epos terpanjang di dunia), terdapat banyak perintah larangan pembunuhan binatang. Beberapa diantaranya:

"Dia yang menginginkan untuk memperbesar otot daging dari badannya sendiri dengan memakan otot daging dari mahluk lainnya hidup dalam penderitaan dalam spesies apapun yang ia dapatkan pada kelahirannya.";

"Siapa yang bisa menjadi lebih kejam dan egois melebihi dia yang memperbesar otot dagingnya dengan memakan bagian badan dari binatang yang polos?"; dan

"Mereka yang menginginkan untuk memiliki ingatan yang baik, kecantikan, umur panjang dengan kesehatan yang sempurna, dan fisik, moral dan kekuatan spiritual, mestinya menghindari makanan dari sumber hewani."

Semua entitas hidup memiliki roh atau sang roh. Dalam Bhagavad-Gita, Krsna menjelasakan sang roh sebagai sumber dari kesadaran dan unsur aktif yang mengaktifkan badan dari setiap mahluk hidup.

Berdasarkan pengetahuan Weda, roh yang berada dalam bentuk lebih rendah dari manusia secara otomatis mengembangkan keinginan untuk naik ke tingkat spesies yang lebih tinggi, berangsur-angsur meningkatkan diri hingga ke bentuk paling ideal sebagai seorang manusia. Hanya ketika mendapatkan kehidupan dalam bentuk sebagai manusia sang roh dapat mengarahkan kesadarannya kepada Tuhan dan pada saat yang sama ketika dirinya meninggal dapat dipulangkan kembali ke dunia spiritual. Baik dalam tatanan sosial maupun tatanan alam semesta, manusia mesti mengindahkan aturan-aturan yang ada.

Dalam ulasan Srimad-Bhagavatamnya, Srila Prabhupada mengatakan, "Semua entitas hidup mesti memenuhi beberapa jangka waktu menjalani hidup dalam kurungan badan material tertentu. Mereka mesti menghabiskan jangka waktu dalam badan tertentu itu sebelum akhirnya dipromosikan atau dinaikan ke badan yang lainnya. Membunuh binatang atau mahluk hidup lainnya sederhananya menghasilkan hambatan dalam perjalanan menyelesaikan waktu kurungan tersebut. Dengan demikian seseorang semestinya tidak membunuh badan-badan mahluk lain hanya untuk memuaskan indera-inderanya, prilaku semacam itu akan melibatkan seseorang dalam aktivitas yang berdosa." Singkatnya, membunuh seekor binatang menghentikan evolusi progresifnya dalam perjalanan dari satu spesies ke spesies yang lainnya, dan si pembunuh tak akan terhindari dari reaksi penderitaan karena prilakunya yang berdosa ini.

Dalam Bhagavad-Gita (5.18) Krsna menjelaskan bahwa kesempurnaan spiritual dimulai ketika seseorang dapat melihat kesetaraan dari semua mahluk hidup, "Para resi yang rendah hati, berdasarkan pengetahuan yang sejati, melihat seorang brahmana yang bijaksana dan lemah lembut, seekor sapi, seekor gajah, seekor anjing dan orang yang makan anjing dengan pengelihatan yang sama." Krsna juga menginstruksikan kita untuk mengadopsi prinsip dasar vegetarianisme spiritual ketika Beliau menyatakan, "Kalau seseorang mempersembahkan daun, bunga, buah atau air dengan cinta bhakti, Aku akan menerimanya." BG (9.26)

Tabel Spesifikasi Jenis Makanan dari Masing-Masing Entitas

Pemakan daging

Pemakan tumbuhan

Manusia

Menjilat dan meminumMenyedot dan meminumMenyedot dan meminum
Tajam, gigi depan yang runcing untuk mengoyak daging.Tidak tajam, gigi runcingTidak tajam, gigi runcing
Punya cakarTidak punya cakarTidak punya cakar
Saluran usus hanya tiga kali panjang badan, sehingga daging yang membusuk dengan cepat dapat segera melewati badanSaluran usus memiliki panjang 10-12 kali panjang badan. Buah-buahan tidak membusuk begitu cepat sehingga dapat melewati badan dengan lebih pelan.Saluran usus memiliki panjang 10-12 kali panjang badan. Buah-buahan tidak membusuk begitu cepat sehingga dapat melewati badan dengan lebih pelan.
Kelenjar ludah kecil dalam mulut (tidak diperlukan untuk mengunyah biji-bijian dan buah-buahan)Kelenjar ludah yang dikembangkan dengan baik diperlukan untuk mengunyah biji-bijian dan buah-buahanKelenjar ludah yang dikembangkan dengan baik diperlukan untuk mengunyah biji-bijian dan buah-buahan
Air liur asam. Tanpa enzim ptyalin untuk mengunyah biji-bijian.Air liur alkalin. Lebih banyak ptyalin untuk mengunyah biji-bijian.Air liur alkalin. Lebih banyak ptyalin untuk mengunyah biji-bijian.
Tidak punya gigi geraham belakang untuk menghaluskan makanan.Punya gigi geraham belakang untuk menghaluskan makanan.Punya gigi geraham belakang untuk menghaluskan makanan.
Mereka dapat melihat saat malam hari.Tidak dapat melihat saat malam hariTidak dapat melihat saat malam hari
Dapat membunuh mangsanya tanpa menggunakan senjataTidak membunuh untuk makanPada umumnya tidak dapat membunuh tanpa menggunakan senjata
Mereka dapat mencerna daging mentah dengan mudah.Tidak makan dagingTidak dapat mencerna daging mentah dengan mudah
Pada umumnya berprilaku rakus/tamakPada umumnya tidak berprilaku rakus/tamakBerprilaku rakus/tamak dengan memakan daging
Tidak memakan rumputTidak memakan dagingTidak boleh memakan daging
Tanpa pori-pori kulit. Berkeringat melalui hidung untuk mendinginkan badan.Berkeringat melalui jutaan pori-pori kulit.Berkeringat melalui jutaan pori-pori kulit.

Apanya yang salah dengan memakan Bawang Merah dan Bawang Putih?

Berdasarkan apa yang tercantum di Bhagavad Gita dan Ayurweda, ilmu kedokteran klasik India, makanan-makanan di kelompokan menjadi tiga kategori - satwik, rajasik dan tamasik - makanan dalam sifat kebaikan, nafsu dan kebodohan. Bawang merah dan putih, dan bagian-bagian yang berhubungan dengan tanaman bawang diklasifikasikan sebagai golongan rajasik dan tamasik, yang artinya bahwa mereka menaikan taraf nafsu gairah dan kebodohan dari pemakannya.

Berikut sebagaimana diceritakan bahwa bawang merah dan putih berasal dari mayat seekor sapi dan maka dari itu jika kita memakannya sama halnya dengan kita memakan daging sapi. Hal ini mematahkan prinsip non-vegetarianisme melalui sudut pandang sastra. Seorang vegetarian yang ketat tidak memakan bawang merah maupun bawang putih. Karena daging bersifat tamasik, bawang merah/putih juga termasuk makanan tamasik dan rajasik. Mereka mungkin memiliki beberapa nilai atau kegunaan yang berkaitan dengan pengobatan sebagaimana juga terkadang wine digunakan dalam pengobatan. Maka dari itu mereka dianggap tabu untuk pengikut dari budaya Weda.

"Pada dahulu kala, ketika jaman Satya Yuga para resi melakukan pengorbanan gomedha dan aswamedha yang dimaksudkan untuk kesejahteraan seluruh alam semesta. Para resi akan melapalkan mantra dan binatang yang sama yang mana telah dikorbankan akan kembali hidup dengan badan baru yang masih muda.

Pada saat itu, sang resi yang akan melaksanakan pengorbanan gomedha, istri beliau sedang hamil. Sang istri memiliki keinginan yang sangat kuat untuk makan dan ia mendengar bahwa jika, selama masa kehamilan seseorang ngidam makan dan tidak memenuhi keinginan itu, maka anaknya yang akan lahir akan selalu meneteskan liur dari mulutnya. Sangat aneh, ia sangat ngidam untuk dapat memakan daging, dan dengan demikian ia memutuskan untuk mengambil sepotong daging dari badan sapi yang telah dipersembahkan dalam pengorbanan. Ia menyembunyikannya dan telah menyusun rencana untuk memakannya dengan segera. Pada saat itu sang resi telah menyelesaikan pengorbanannya dan melafalkan semua mantra untuk sapi muda yang baru agar dapat hidup kembali. Namun ketika ia melihat sapi yang baru itu, ia menyadari bahwa ada bagian kecil yang hilang dari sisi kiri si sapi. Ia pun pergi untuk bermeditasi dan menyadari bahwa istrinya telah mengambil potongan kecil dari daging itu ketika pengorbanan sedang berlangsung. Dan istrinya pun juga telah mengetahui kejadian tersebut dan dengan cepat membuang daging itu ke tempat yang jauh. Dikarenakan oleh efek dari mantra-mantra yang telah dilafalkan oleh sang resi maka terdapat pula kehidupan pada sepotong daging itu. Kemudian sisa darah dari daging itu tumbuh menjadi kacang lentil merah, tulangnya menjadi bawang putih dan dagingnya sendiri menjadi bawang merah.

Maka dari itu makanan yang mengandung bahan-bahan tersebut tidak pernah dimakan oleh Waisnawa manapun yang berada dalam sifat kebaikan sebagaimana semestinya seorang Waisnawa pertimbangkan makanan tersebut tidak dapat dipersembahkan karena mengandung bahan non-vegetarian. Ditambah lagi berada dalam sifat kebodohan." "Bukanlah vegetarian untuk memakan bawang merah dan bawang putih."

Seorang dokter ayurweda mengatakan bahwa penjelasan ini terdapat dalam Ayurweda:

Ketika Sri Wisnu dalam wujudNya sebagai Mohini sedang membagikan nektar kepada para dewa dua iblis bernama Rahu dan Ketu ikut menyelinap ke barisan para Dewa. Dengan salah Beliau menyuapi nektar ke mulut mereka. Seketika itu Beliau langsung diberitahu oleh Matahari dan Bulan bahwa mereka berdua adalah iblis. Segera setelah Beliau mengetahui informasi ini Beliau memotong kepala kedua iblis itu. Pada saat itu nektarnya belum melewati tenggorokannya. Nektarnya masih berada dalam mulut mereka. Ketika Beliau memotong kepala mereka, kepalanya terpisah dari badan. Sehingga nektarnya tidak melewati perut namun menetes ke tanah. (Itulah alasan mengapa kepala Rahu dan Ketu masih hidup dan badan mereka telah hancur.) Nektar yang telah masuk ke mulut mereka menetes ke tanah ketika kepala mereka terpotong dari badan. Bawang putih dan bawah merah terbentuk dari nektar ini.

Bawang merah/putih tersebut dianggap nektar tapi tidak digunakan untuk Beliau karena telah menjadi sisa dari para iblis dan telah menyentuh mulut dari dua iblis. Bahkan jika nektarnya telah menyentuh mulut dua iblis masih saja bawang merah/putih berfungsi sebagaimana nektar dalam menyembuhkan penyakit. Tapi bukan berarti dapat dipersembahkan untuk Wisnu atau Waisnawa. Dokter ayurweda itu juga mengatakan bahwa siapapun yang memakan bawang merah/putih, badan mereka akan menjadi sangat kuat seperti halnya para iblis dan raksasa dan pada saat yang sama kecerdasan mereka juga akan tercemarkan oleh kecerdasan para iblis.

Srila Prabhupada juga pernah ditanyai mengenai bawang merah/putih, beliau menarasikan cerita berikut:

Srila Prabhupada berkata bahwa mamakan bawang merah/putih sama buruknya dengan mamakan daging sapi, beliau membacakan cerita berikut tentang seorang raja Muslim, seekor sapi dan seorang brahmana.

Bagi orang Muslim, pemotongan sapi merupakan hal biasa. Khusus untuk raja ini tetapi, sebelum melakukan pemotongan akan memanggil seorang brahmana dan brahmana itu akan melakukan persembahan doa seperti halnya doa "Dalam kehidupan ini orang-orang itu yang memotong mu, tapi dikehidupan berikutnya kamu akan mendapatkan kesempatan untuk memotong mereka."

Jadi pada suatu hari sang brahmana datang kesana tapi ia merasa sangat nafsu dan dia mencoba makan daging sapi juga. Akan tetapi, berdasarkan sistem yang ada beliau tidak dibolehkan untuk melihat pemotongan yang sedang berlangsung, ia diharuskan untuk melakukan persembahan doa dan kemudian langsung pergi. Jadi beliau bersembunyi di sudut dan menyaksikan bagaimana pembantaian itu terjadi. Setelah semua Muslim mengambil bagian mereka dari sapi yang sudah mati itu dan pergi dari sana, sang brahmana keluar dari persembunyiannya dan menuju ke tempat pembantaian tadi dan ia menemukan bagian pergelangan kaki dari sapi tersebut. Karena ia tidak seharusnya memakan daging apapun, ia membawa bagian itu ke hutan dan menguburnya dengan rencana ia akan kembali saat malam tiba, memasaknya dan memakannya. Saat ia kembali ia menggali bagian itu dan menemukan kejutan besar bahwa bagian itu telah berubah menjadi bawang merah dan bawang putih.

Srila Prabhupada lalu berkata bahwa telapak kaki sapi itu berubah menjadi bawang putih dan bagian pergelangannya menjadi bawang merah; bawang putih terlihat seperti telapak kaki sapi, dan sama halnya dengan pergelangan kaki sapi memiliki beberapa lapisan yang terdiri dari daging begitu pula dengan bawang merah punya beberapa lapisan dan memiliki warna sama dengan warna daging. Beliau mengakhiri ceritanya dengan memberitahu mereka bahwa ketika kamu memakan bawang putih akan menyebabkan bau busuk dari mulut mu dan ketika kamu memotong bawang merah akan membuat mata mu meneteskan air mata. Air mata itu keluar karena para sapi menangis bahwa pada jaman Kali yuga bahkan seorang brahmana pun menginginkan untuk memakan bawang merah.

---

Terkait dengan bawang-bawangan, kita dapat mengerti masing-masing orang memiliki cara pikir yang berbeda. Beberapa orang dapat memahami suatu hal melalui sudut pandang logika, beberapa orang dengan cerita-cerita dan beberapa lagi dengan langsung bereksperimen/mencoba. Jika jalan cerita tidak terasa masuk ke pemahaman mu, maka kamu dapat menggunakan cara lain seperti misalnya cara bereksperimen sendiri dan lihat perbedaan yang diakibatkannya pada kesadaran mu. Ketika kitab suci menyatakan sesuatu maka itu berarti absolut dan benar, kita mungkin tidak dapat memahami secara langsung tapi jika diikuti dengan benar maka kita akan mendapatkan kesadaran yang lebih tinggi dan mulai meningkatkan keimanan dalam kata-kata dari kitab-kitab suci. Alasan utama untuk tidak memakan bawang-bawangan adalah bahwa mereka mengganggu pikiran dan meningkatkan kadar kemarahan pada diri kita. Juga mereka dapat meningkatkan nafsu gairah dan kebodohan. Bawang putih mengganggu indera dan dapat memicu nafsu birahi. Mereka yang serius dalam jalan spiritual, yoga dan meditasi sangat menghindari makanan-makanan yang berada dalam sifat nafsu dan kebodohan yang mana dengan menghindarinya akan membantu mereka meningkatkan level kesadarannya ke sifat kebaikan, dari sana seseorang selanjutnya dapat masuk ke sifat transkendental / sifat yang melampaui ikatan-ikatan material.

Mengapa Para Penyembah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa / Krsna tidak memakan daging?

Binatang adalah anak dari Krsna, diciptakan oleh Tuhan dengan roh. Maka dari itu, memakan binatang adalah bertentangan dengan Tuhan. Terlebih lagi, itu buruk untuk kesadaran mu: Karena pembantaian binatang adalah kejam, ketika kamu memakan daging, ikan atau unggas, kamu mengarahkan dirimu untuk menjadi lebih bengis dan, bahkan, prilaku bejat.

Memasak itu terjalin dengan spiritualitas. Hare Krsna percaya kalau mereka memasak untuk kepuasan Tuhan. Mereka tidak pernah mencicipi makanan yang mereka masak, karena harus dipersembahkan dahulu kepada Krsna. Terlebih lagi, juga dikatakan bahwa makanan menyerap kesadaran dari yang memasak.

Jika kamu marah dan siku mu masuk jauh ke dalam lentil atau menguleni adonan untuk chapati (roti tak beragi), filosofi itu mengklaim bahwa emosi-emosi mu berpindah ke makanan - dan kemudian ke orang yang memakan hidangan itu.

Ada satu alasan mengapa para biksu tidak makan ke restoran, karena itu akan memunculkan pertanyaan, "Kesadaran siapa yang kamu makan hari ini?"

Daging - Bukan Makanan untuk Manusia.

Daging bukanlah makanan untuk manusia. Bukan bagian badan dari binatang apapun, burung, ikan atau telur dll. adalah makanan untuk manusia. Daging tidak hanya tidak baik untuk kesehatan; ia juga meracuni pikiran, kecerdasan dan sang roh. Memakan daging seluruhnya dilarang dalam ajaran Weda. Resi Manu dalam Manusmrti berkata:

1. "Dia yang tidak mengekang, membunuh atau menyakiti mahluk hidup, adalah seorang yang pro dengan kehidupan dan mendapatkan kebahagiaan yang melimpah."

2. "Kamu tidak bisa mendapatkan daging tanpa membunuh, dan membunuh tidak memberikan kebahagiaan. Maka dari itu seseorang mestinya tidak memakan daging."

3. "Mengingat sebagaimana daging diproduksi, membunuh dan menyakiti binatang; seseorang seharusnya menjauhkan diri dari keinginan untuk memakan semua jenis daging."

4. "Siapa pun, yang membunuh mahluk tak berdosa dengan tujuan untuk mendapatkan kesenangan sendiri; ia dalam kehidupannya dan bahkan setelah kematiannya tidak akan mendapatkan kebahagiaan."

5. Dia, yang menyuruh untuk membunuh para binatang; dia yang memotong bagian badan; dia yang membunuh para binatang; penjual dan pembeli dari hasil pembunuhan binatang; dia yang memasak daging; dia yang menghidangkan daging dan dia yang memakan daging mereka semua adalah pembunuh dan pendosa."

Weda berkata tentang peduli dan melindungi para binatang:

1. Yayur Weda berkata: Wahai Manusia! Kamu janganlah membunuh domba, sapi, kuda dll.

2. Dalam Yayur Weda terdapat doa: O Tuhan! Lindungi orang-orang ku dan para binatang.

3. Atharwa Weda berkata: Wahai manusia kejam! Jika kamu membunuh binatang kami seperti sapi, kuda, dll. atau manusia; maka kami akan melemparmu ke kematian sehingga kamu tidak mampu lagi untuk membunuh mereka.

4. Mahabharata berkata: Dia yang ingin hidup, bagaimana bisa dia membunuh yang lain? Manusia harus berharap untuk yang lain; apa yang mereka harapkan untuk diri mereka sendiri.

5. Reg Weda memberitahu kita: Janganlah membunuh sapi-sapi dan kuda-kuda kita.

6. Atharwa Weda berkata: Dia, yang memakan daging mentah, dia yang memakan daging manusia dan dia yang memakan telur: mereka semua patut untuk dihancurkan sekaligus.

Dalam kaitannya dengan memakan, Weda membicarakan tentang biji-bijian seperti gandum, beras oat dll., buah-buahan dan sayur mayur, susu, mentega dll. Memakan daging tidak dibolehkan sama sekali. Dr. Field menulis, setiap mahluk hidup mengetahui kebahagiaan hidup dan ketakutan akan kematian. Mereka merasakan sakit dan gembira, sama seperti mu. Begitu juga Tuhan adalah ayah dari semua mahluk hidup -- binatang, burung, serangga dan manusia. Apakah para binatang dan para burung ingin untuk dibunuh? Tidak, sama sekali tidak. Tidakah mereka merasa putus asa dan sangat sedih ketika mereka akan dibunuh? tentu saja. Setiap mahluk hidup memiliki tujuan dan alasan tertentu mengapa mereka bisa ada di bumi. Tujuannya, tentu saja, lebih dari sekedar dibunuh dan dimakan oleh yang lain. Biarkanlah masing-masing dari mereka menjalani hari-hari mereka untuk memenuhi tujuan tersebut.

Srila Prabhupada berbicara pada "Binatang adalah Saudara Kita":

"Ini adalah saudara Amerika saya, dan ini adalah saudara India saya. Sekarang mari kita makan sapi ini." Seseorang mungkin melihat orang lain sebagai saudara, tapi dia melihat ke sapi sebagai makanan. Inikah yang dimaksud dengan cinta universal? Orang yang sadar akan Krsna, melainkan, berpikir, "Oh, ini sapi. Ini anjing. Mereka adalah bagian percikan dari Krsna, namun entah mengapa atau karena hal lain mereka mendapatkan badan yang berbeda. Ini tidak berarti bahwa mereka bukanlah saudara ku. Bagaimana mungkin aku membunuh dan memakan saudara ku?" Itulah cinta universal yang asli-berakar pada cinta bhakti untuk Krsna. Tanpa adanya kesadaran Krsna, tidak ada pertanyaan apapun soal cinta.

Seseorang bisa saja membunuh seekor binatang untuk menikmati memakannya, tapi dia akan terikat dengan suatu reaksi. Maka dari itu dalam kehidupan selanjutnya dia akan menjadi sapi atau kambing, dan si sapi atau kambing yang dimakan akan menjadi manusia dan memakannya. Ini adalah pernyataan Weda, dan sama seperti semua pernyataan Weda, seseorang bisa saja percaya atau tidak. Namun sayangnya, saat ini orang-orang dididik dengan cara bahwa mereka tidak mempercayai adanya kehidupan selanjutnya. Bahwasanya, terlihat bahwa semakin seseorang "terdidik", semakin ia tidak percaya dengan Tuhan, dengan hukum Tuhan, dengan kehidupan selanjutnya dan dalam aktifitas yang saleh dan penuh dosa. Maka dari itu pendidikan moderen sederhananya menyiapkan manusia untuk menjadi binatang. Jika tidak ada pendidikan untuk mengajarkan manusia menjadi apa sebenarnya dirinya dan baik atau tidak dia dalam badan ini, dia tetap tidak lebih dari seekor keledai. Seekor keledai juga berpikir, "Aku adalah badan ini," sebagaimana juga binatang lainnya berpikir. Sehingga jika seorang manusia berpikir dengan cara yang sama, apa bedanya dia dengan binatang lainnya?

Srila Prabhupada berbicara pada "Karma yang Sangat Buruk Jika Membunuh Binatang":

Tapi kita ingin menghentikan rumah penyembelihan itu. Itu sangat, sangat penuh dengan dosa. Itulah mengapa di seluruh dunia mereka menghadapi banyak peperangan. Setiap sepuluh atau lima belas tahun terjadi perang besar-rumah penyembelihan kulakan untuk umat manusia. Akan tetapi para bajingan tersebut-mereka tidak melihat hal itu, itu terkait dengan hukum karma, setiap aksi harus memiliki reaksi.

Kamu membunuh sapi yang tak berdosa dan binatang lainnya-alam akan menuntut balas. Cukup tunggu saja. Segera ketika saatnya tiba, alam akan menyaring semua bandit itu dan menyembelih mereka. Selesai. Mereka akan bertarung dengan sesama mereka-Protestan dan Katolik, Russia dan Amerika, yang ini dan yang itu. Itu sedang terjadi. Mengapa? Itulah hukum alam. Gayung bersambut. "Kamu telah membunuh. Sekarang kamu bunuh diri mu sendiri."

Mereka mengirim para binatang ke rumah penjegalan, dan sekarang mereka akan membuat rumah penjegalan mereka sendiri. Ini adalah hukum alam. Tidaklah perlu untuk membawa mu ke rumah penjegalan biasa. Kamu akan membuat rumah penjegalan mu di rumah. Kamu akan membunuh anak mu sendiri-aborsi. Ini adalah hukum alam. Siapakah anak-anak yang telah dibunuh itu? Mereka adalah para pemakan daging. Mereka memuaskan diri mereka sendiri ketika banyak binatang yang terbunuh, dan sekarang mereka sedang dibunuh oleh ibu mereka. Orang-orang tidak mengetahui bagaimana alam bekerja. Jika kamu membunuh, kamu harus dibunuh. Jika kamu membunuh sapi, yang mana adalah ibu mu (termasuk dalam 7 ibu yang harus dihormati), maka dalam kehidupan yang akan datang ibu mu akan membunuh mu. Yaa. Sang ibu akan menjadi sang anak, dan anak akan menjadi ibu.

Saya membunuh binatang ini; saya memakannya. Dan dalam kehidupan ku yang akan datang dia akan membunuh ku dan memakan ku. Ketika binatang dikorbankan, mantra ini dibisikan ke telinga si binatang-"Kamu memberikan hidup mu, jadi dalam kehidupan mu selanjutnya kamu akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia. Dan aku yang membunuh mu sekarang akan menjadi binatang, dan kamu akan memubunuh ku." Jadi setelah memahami mantra ini, siapa yang siap untuk membunuh binatang?

Jika kamu memakan daging, itu berarti kamu menjadi terlibat dalam aktifitas yang berdosa. Kamu mesti dibunuh oleh musuh mu, dan dia akan memakan mu, atau kamu akan menjadi kambing atau babi atau sapi, dan korban mu akan membunuh mu. Sama halnya dengan dewasa ini kontrasepsi, aborsi, pembunuhan anak sedang berlangsung, jadi manusia yang sama, lagi-lagi dia dibunuh oleh apa yang dinamakan dengan ayah dan ibu. Itu akan bereaksi. Ini adalah hukum alam. Kamu tidak bisa hindari itu. Jika kamu telah membunuh binatang, maka kamu mesti dibunuh oleh binatang itu. Ketika saya memakan daging, binatang ini juga akan memakan ku lagi." Ini yang kamu tidak dapat hindari. "Hidup untuk hidup". Hukum itu ada di mana-mana. Jika kamu membunuh seseorang, kamu harus dibunuh juga. Jadi kamu bisa mehindari apa yang dinamakan dengan hukum negara, tapi kamu sama sekali tidak bisa menghindari hukum dari alam material.

Catat, seseorang berkata: selama masih ada rumah penjegalan, selama itu pula tetap akan ada peperangan.

Untuk dunia yang lebih damai, mohon berhenti membunuh para binatang dan jadilah seorang vegetarian.

Kesimpulan

Kita sebenarnya tidak perlu memakan daging, terdapat banyak sekali kerugiannya. Umumnya tak ada orang yang dapat memakan daging mentah sebagai mana adanya, itu terasa menjijikan tapi binatang bisa memakannya. Kita sebagai manusia tidak didesain untuk memakan daging, gigi kita juga memiliki bentuk berbeda dengan yang dimiliki binatang. Memakan daging memicu sifat kebodohan dan kita tidak akan mampu memahami topik-topik spiritual yang lebih tinggi, pikiran kita tidak akan terserap dalam Tuhan. Kita tidak pernah melihat seorang pemakan daging yang dapat memahami Tuhan atau yang memiliki bhakti tulus kepada Beliau. Dengan adanya pembunuhan binatang, semua rasa sayang, belas kasihan dan cinta menghilang. Jadi bagaimana mungkin kita dapat mencintai Tuhan? Ada juga bentuk lain dari kekejaman, umumnya kita tidak akan menemukan seorang teroris yang merupakan seorang vegetarian, karena dengan menjadi vegetarian dan dalam sifat kebaikan akan memicu rasa iba terhadap entitas hidup lainnya yang juga diciptakan oleh Tuhan, Krsna. Krsna berkata dalam Bhagavad Gita bahwa Beliau menerima makanan tertentu yang mana adalah vegetarian (BG, 9.26). Jadi kita dapat mempersembahkannya kepada Tuhan, Beliau tidak mengatakan persembahkan pada ku daging. Sering kali orang-orang mempertanyakan apakah Sri Krsna makan daging atau apakah Sri Rama makan daging, tentu saja tidak. Tuhan tidak memakan daging. Juga hal lain yang harus dipahami adalah bahwa Tuhan dapat melakukan papaun yang Beliau kehendaki karena Beliau adalah Tuhan sehingga kita harusnya tidak meniru Tuhan dengan cara apapun. Dan untuk menjadi seorang penyembah kita harus hanya memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada Tuhan, Krsna. Bahkan hanya dengan menjadi seorang vegetarian saja tidaklah cukup, kita harus mempersembahkan makanan vegetarian kita (tanpa bawang merah/putih) kepada Krsna, dan kemudian memakannya sebagai Prashadam/Paica (Makanan yang disucikan/karunia). Cara ini akan memicu kualitas spiritual. Orang terkadang berkata bahwa kita memakan daging karena kita harus menjadi kuat atau kita perlu banyak protein, ini tidaklah benar, kita bisa mendapatkan banyak sekali protein dengan memakan kedelai, dhal, gandum dan makanan vegetarian lainnya.

Tujuan dari memakan makanan adalah untuk menjaga agar badan dan roh kita bersama, dan bukan untuk memuaskan nafsu dari indria-indria kita. Hanya untuk kepuasan lidah mengapa kita harus memakan daging? Kita tidak perlu membuat perut kita menjadi kuburan untuk para binatang. Hidup manusia diperuntukan untuk tujuan kesederhanaan, untuk menjernihkan keberadaan kita, dan untuk mengembangkan cinta bhakti kita untuk Tuhan, Krsna.

Mengikuti prinsip-prinsip regulatif sebagaimana dikatakan dalam kitab suci seperti halnya, Tidak memakan daging, (yang mana termasuk juga ikan & telur), Tidak berjudi, Tidak Mabuk-mabukan, Tidak melakukan hubungan seks terlarang (seks diluar pernikahan) empat prinsip dasar tersebut membantu kita untuk menahan dan menjauhkan diri dari aktifitas yang penuh dosa. Dengan mengikuti empat prinsip tersebut kita tidak mengekang diri kita tapi kita membebaskan diri kita sendiri dari reaksi-reaski karma dan perbudakan.

Makan daging, seks terlarang, mabuk-mabukan, dan judi, itu adalah empat pilar dari hidup yang penuh dosa. Mereka berjalan berlawanan secara langsung dengan empat pilar dasar dari Dharma atau hidup yang religius, yaitu belas kasihan, kesucian, kesederhanaan dan kejujuran.

Harus ditunjukan bahwa empat prinsip regulatif dari kehidupan religius, sementara berbudi luhur dalam diri mereka sendiri, bukanlah jumlah dan substansi dari spiritualitas sejati; empat prinsip itu hanya prinsip-prinsip sub-religius. Sementara seseorang yang mengikuti prinsip-prinsip tersebut (dengan taat) mungkin akan membangun tahapan yang benar untuk memasuki kehidupan spiritual, spiritualitas yang benar mungkin masih menghindarinya. Maka dari itu, kami merasa ini wajib untuk diri kita sendiri untuk mengarahkan ke Srimad-Bhagavatam, yang menunjukan:

Kaler dosa nidhe rajann asti hy eko mahan gunah kirtanad eva krsnasya mukta-sangah param vrajet

"Raja ku yang agung, meskipun Kali-yuga dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan, masih terdapat satu kualitas baik tentang jaman ini. Itu adalah hanya dengan melapalkan nama suci Krsna, seseorang dapat menjadi bebas dari ikatan material dan dipromosikan ke Kerajaan yang melampaui paham material." (S.B 12.3.51) Maka dari itu, kamu dianjurkan untuk menyenangkan menyebut nama suci Beliau (Hare Krsna, Hare Krsna, Krsna, Krsna, Hare, Hare, Hare Rama, Hare Rama, Rama, Rama, Hare Hare). Dengan proses ini seseorang akan secara alami mengembangkan suatu ketertarikan untuk mengikuti empat prinsip-prinsip regulatif. Tidak ada kerugian, dan seseorang yang mengikuti prinsip-prinsip tersebut akan menemukan lebih banyak kebahagiaan di hidup ini begitu juga dengan kehidupan selanjutnya.

Makanan daging-dagingan yang terhidang diatas piring mu mungkin terlihat enak untuk mu tapi pernah kah kamu memikirkan bagaimana para binatang itu diperlakukan? Jika kamu masih ingin memakan daging. Kami menyarankan untuk menonton video berikut (klik pada tautan di bawah). Tonton hingga selesai jika kamu sanggup. Selanjutnya kamu dapat mengambil keputusan itu untuk diri mu sendiri jika kamu tetap masih ingin melanjutkan untuk memakan daging. Diakhir hari, pilihannya ada pada mu, kita memiliki kehendak bebas, tapi apa yang kita lakukan dengan kehendak bebas itu itulah pilihan kita dan keputusan kita, jika kita melanjutkan dengan dosa kita maka kita bertanggung jawab pada Tuhan dan hukumNya, yang mana sangat bijak dan kuat, ia akan bereaksi terhadap kita terlepas dari kita mempercayainya atau pun tidak mempercayainya.

Meet your meat - The transformation of animals into food - http://youtu.be/sDea6L9gPD8

From Farm To Fridge Video - http://youtu.be/tzrRmB40l00

" Untuk setiap aksi terdapat reaksi setara yang berlawanan "

Mereka para manusia pendosa yang bodoh tentang prinsip-prinsip keagamaan yang sebenarnya, masih menganggap diri mereka benar-benar saleh, tanpa penyesalan melakukan kekejaman terhadap binatang yang polos tak berdosa yang begitu mempercayai mereka. Dalam kehidupan mereka selanjutnya, orang-orang yang penuh dosa itu akan dimakan oleh mahluk-mahluk yang sama yang telah mereka bunuh di dunia ini. (Srimad Bhagavatam 11.5.14)

Kamu membunuh sapi yang tak berdosa dan binatang lainnya-alam akan menuntut balas. Cukup tunggu saja. Segera ketika saatnya tiba, alam akan menyaring semua bandit itu dan menyembelih mereka. Selesai. - Srila Prabhupada (Founder of the International Society for Krisnha Consciousness).

Hare Krishna

Paramesvara Chaitanya Das.

Mohon kunjungi juga halaman Vegetarianisme kami.

Hare Krishna

-------
Diterjemahkan dari: http://iskconbirmingham.org/whats-wrong-with-eating-meat, 17 Agustus 2016 22:51

1.455
Image

Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di TutorKeren.com kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

Artikel Menarik Lainnya
Mari Gabung

Halo Emo 51 , Ada yang ingin disampaikan? Jangan sungkan untuk gabung diskusi ini. Silahkan Login dulu atau Daftar baru.