Anda di sini

Elektronika

Govinda Rover Mark 2 (GR Indira) Project Home Page

Aditya Suranata - 20 Februari 2016 16:58:44 0

Kejadian kejahatan seperti pencurian dan perampokan meningkat secara signifikan. Menurut data yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik (Statistik Indonesia), jumlah kejahatan di Indonesia cenderung meningkat selama sepuluh tahun terakhir. Selain kewaspadaan individu, masalah ini bisa diantisipasi dengan cara meningkatkan sistem keamanan. Dari banyak solusi yang ada, salah satunya adalah penggunaan kamera pengintai untuk memantau rumah, kantor, pabrik dan tempat beresiko lainnya. Peningkatan penggunaan kamera pengintai menjadi patokan bahwa perangkat ini efektif digunakan. Akan tetapi, untuk menjangkau area yang luas, diperlukan banyak kamera untuk dapat mengawasi setiap sudut penting. Dead-zone, suatu area yang belum terjangkau oleh visi kamera, dapat menjadi kelemahan dari sistem pengintai ini. Hal ini dipahami karena kamera memiliki sudut pandang tertentu yang dapat dijangkau. Selain itu, harga yang relatif mahal, visi statis dan infrastruktur spiral dapat menjadi faktor negatif yang harus diperhitungkan dalam implementasi sistem kamera pengintai.

Terdapat banyak karya yang telah diterbitkan. Ada banyak peneliti mendukung pengembangan robot pengintai dengan banyak fungsi. Robot dapat dilengkapi dengan senapan mesin, penerima laser, pencitra termal, kamera CCD (charge-coupled device) warna, dan illuminator laser. Robot pengintai dapat diimplementasikan baik di dalam maupun luar ruangan. Untuk tujuan luar, robot dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi pada daerah pasca terkena bencana. Selain untuk tujuan penggunaan di luar ruangan, robot juga dapat didedikasikan untuk dapat mengatasi kendala dalam ruangan seperti tangga, kusen dan hambatan lain yang mana dapat dilalui manusia dengan mudah. Terlepas dari banyaknya penelitian yang telah dikembangkan, umumnya karya-karya tersebut cenderung untuk membangun produk, dalam hal ini robot itu sendiri, bukan platform. Oleh karena itu, sumber daya untuk mengembangkan robot pengintai sulit untuk ditemukan oleh masyarakat.

Penelitian ini tidak hanya menciptakan perangkat, tetapi juga diperluas untuk menciptakan sebuah platform. Peneliti mencoba membuat platform robot pengintai, yang bernama Govinda Rover, memiliki kemampuan memata-matai dan mengambil tindakan secara otomatis. Govinda Rover terutama didedikasikan untuk sistem pengintaian rumah. Penggunaanya dimaksudkan untuk mengurangi kelemahan klasik visi kamera, yaitu dead-zone.

Karya ini termotivasi dari beberapa alasan. Platform Surveillance robot adalah produk yang biasanya berbayar sehingga mahal untuk menerapkan sistem ini. Selain itu, produk sejenis yang menerapkan platform open-source untuk pengintai rumahan jarang ditemui atau bahkan tidak ditemukan, terutama di Indonesia. Bagi banyak orang, sulit untuk membangun sistem dari awal. Kondisi ini menyulitkan pengembangan platform robot pengintai rumahan.

Sebuah platform robot mobile ditawarkan untuk mengatasi dan mengurangi banyaknya kekurangan dari kondisi saat ini. Peneliti mencoba mengimplementasikan berbagai modul yang mudah ditemukan di pasaran, seperti single-board computer Raspberry Pi, Arduino, modul kamera resolusi tinggi dan USB adapter Wi-Fi untuk menjadi sebuah platform yang menawarkan kemudahan dalam pembangunan perangkat pengintai rumahan yang hemat biaya namun memiliki fitur canggih, keseimbangan antara kemampuan, aksesibilitas, biaya dan desain yang terbuka. Dalam karya ini, sebuah single-board computer digunakan sebagai inti pemroses dari sistem platform. Sebuah modul mikrokontroler juga digunakan untuk mengontrol gerakan mekanik. Kombinasi kamera resolusi tinggi RaspiCam v1.3 dengan resolusi 5 Megapixels dan USB Wi-Fi adapter dapat digunakan sebagai sensor visi, seperti merekam video berdefinisi tinggi dan mengambil foto ber-resolusi tinggi, hingga melakukan live stream dari jarak jauh yang terintegrasi dengan jaringan nirkabel rumah.

Govinda Rover (Mark II) merupakan pengembangan dari versi terdahulu (Mark I). Perbedaan utama dari versi sebelumnya adalah pada teknologi back-end server dan transport layer yang digunakan. Pada versi (Mark I) digunakan teknologi web berbasis AJAX/XHTTP dan back-end server Apache2 - PHP5 yang terhubung ke port serial.

Pada (Mark II) digunakan antarmuka web responsif dengan teknologi multi-sentuh untuk respon kendali cepat yang terhubung dengan software server terdedikasi berbasis Python menggunakan Tornado Web Framework. Tidak lagi menggunakan teknik polling/long-polling dengan AJAX tetapi komunikasi langsung dua arah menggunakan HTML5 WebSocket.

Source Code sedang menunggu rewrite dari Python 2.7 ke Python 3 dan beberapa clean-up dan dokumentasi API.

1.453
Daftar Artikel Terkait
Image

Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di TutorKeren.com kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

Artikel Menarik Lainnya
Mari Gabung

Halo Emo 51 , Ada yang ingin disampaikan? Jangan sungkan untuk gabung diskusi ini. Silahkan Login dulu atau Daftar baru.