Anda di sini

Filsafat Hidup

Kita adalah Seorang Pelayan

Kusuma Wardana - 01 Desember 2015 13:23:39 0

Apa? Pelayan? Terdengar sangat merendahkan sekali, bukan? Namun demikian, tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan siapa-siapa. Tulisan ini hanya mencoba berbagai ide dari sudut pandang tertentu. Jika kita menelaah dengan seksama, mungkin sudut pandang pada tulisan ini bahkan dapat menjadi sebuah pandangan universal yang berlaku umum. Sebelum lebih jauh mengulas tentang istilah 'pelayan' ini, mari kita mengulas tentang sesuatu yang melekat pada diri seseorang (atau sesuatu) yang tidak dapat dilepaskan dari seseorang atau sesuatu tersebut. Sesuatu yang melekat pada diri ini adalah ciri khas, karakter, hakiki atau jati diri yang harus melekat pada sesuatu itu. Jika hal ini tidak ada, dia tidak dapat dikatakan bahwa ia sesuatu itu. Tidak mencakup fisik, tapi lebih dari itu. Lebih dalam. Sesuatu yang melekat karena menjadi hakikinya seperti itu.

Amatilah api. Apakah sesuatu yang melekat yang menjadi ciri khas dari api? Ya, panas. Panas adalah jati diri dari api. Jika tidak panas, bukanlah api namanya. Air hakikatnya cair, dan mengalir. Jika tidak, maka disebut lain, misalnya es atau uap. Setiap sesuatu memiliki ciri khas dan karakternya masing-masing. Sekarang, apa sebenarnya sesuatu yang melekat pada diri manusia? Apa sebenarnya hakikat kita sebagai manusia?

Manusia memiliki berbagai peran dan profesi dalam hidupnya. Ada yang berprofesi sebagai pedagang, polisi, guru, dan sebagainya. Selain itu, ada yang berperan sebagai anak, orang tua, kakek, nenek, asisten, gubernur, menteri, presiden, serta yang lainnya. Tiap-tiap peran dan profesi memiliki sesuatu yang didedikasikan. Istri melayani suami, suami melayani keluarga, kepala desa melayani masyarakat desa, polisi melayani masyarakat, DPR adalah wakil rakyat, presiden sendiri melayani rakyat. Bahkan, jika kita tidak berpikir melayani siapa-siapa, kita sebenarnya melayani ego kita sendiri, bukan?

Terdengar ironis memang. Justru menjadi pelayan yang baiklah yang patut dihargai. Bukan hanya berkeinginan untuk menjadi bos saja. Bos yang baik pun adalah bos yang melayani perusahaan dan karyawannya dengan baik. Polisi yang baik adalah polisi yang melayani masyarakat dengan tulus. Presiden yang baik adalah presiden yang melayani rakyatnya dengan baik. Jadi, apakah salah jika sebenarnya hakikat kita adalah seorang pelayan?

Jika kita amati dengan seksama, manusia akan mencapai kepuasan ketika kita menjadi pelayan yang baik. "Melayani Anda adalah Tugas Kami", "Melayani dengan Setulus Hati", "Kepuasan Anda adalah Kepuasan Kami" adalah sedikit jargon yang banyak diusung, yang secara implisit menyatakan bahwa "Saya adalah pelayan Anda". Namun demikian, apakah semua puas ketika kita melayani? Apakah semua rela jika hanya melayani? Kebanyakan ingin dilayani, bukan? Semua ingin enak, santai, menjadi bos dan dilayani banyak asisten. Bahkan, ketika kita setulus hati melayani seuatu karena profesi kita, tetap saja ada ketidakpuasan.

Mengapa ketika pelayanan yang sudah kita lakukan dengan baik tetap saja menimbulkan ketidakpuasan? Seorang presiden yang telah melayani rakyatnya dengan baik tetap tidak puas terhadap pelayanannya. Apakah karena kurang masa jabatan? Tidak juga. Ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Semua ketidakpuasan ini terjadi karena kita tidak menempatkan "bos" kita yang sebenarnya. Kita belum melayani sesuatu yang sejati. Lalu, siapa "bos" yang paling tepat untuk kita layani? Apakah orang tua? Keluarga? Anak? Masyarakat? Atau rakyat? Terbukti dari ulasan di atas, melayani semua elemen masyarakat tetap tidak akan membuat kita puas.

Lakukanlah kegiatan kita semata-mata sebagai pelayanan kepada Tuhan. Ya, kita melayani Tuhan memalui profesi kita. Kita jadikan Tuhan sebagai 'bos' sejati kita. Seorang ayah melayani istri dan anak-anak dengan baik semata-mata karena ingin menyenangi Tuhan. Polisi melayani masyarakat setulus hati karena semata-mata ingin menyenangkan Tuhan. Pemuka agama berceramah di depan umat hanya semata-mata agar Tuhan senang. Maka, semua akan bahagia. Tidak percaya? Bisa Anda buktikan.

Hakikat sejati kita sebagai manusia adalah pelayan Tuhan. Pelayanan dalam arti rohani akan benar-benar membahagiakan kita. Tidak ada yang rugi dalam melayani Tuhan. Tuhan sudah begitu besarnya, tidak butuh makanan atau kekayaan dari kita. Bahkan, jika kita seumur hidup melayani Tuhan, masih belum bisa memberi apa-apa kepada Beliau. Jika Beliau berkeinginan, mungkin alam semesta yang begitu besar ini dapat saja Beliau telan dalam sesaat. Lalu, apalah artinya sedikit pelayanan kecil yang kita lakukan? Ya, kita melayani hanya karena ingin menyenangi Tuhan. Menyenangi Beliau akan membuat kita senang. Kita memepersembahkan segala hal untuk kepuasan Beliau.

Akhir kata, Penulis menyimpulkan bahwa layanilah apa yang selayaknya kita layani karena profesi kita. Namun demikian, lakukanlah semua ini semata-mata karena ingin memuaskan Tuhan.

841
Image

Kusuma Wardana

I Nyoman Kusuma Wardana, yang akrab dipanggil Kusuma, lahir dan besar di Bali. Ia tinggal di Desa Wisata Ubud, dan lebih banyak melaksanakan aktivitasnya di Denpasar. Profesinya adalah sebagai staf pengajar di Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali. Saat ini Ia menjadi salah satu penulis di tutorkeren.com.

Mari Gabung

Halo Emo 51 , Ada yang ingin disampaikan? Jangan sungkan untuk gabung diskusi ini. Silahkan Login dulu atau Daftar baru.