Inilah 10 Cara Merusak dan Membuat Raspberry Pi Tidak Bekerja Dengan Semestinya


Aditya Suranata 06 Jun 2016 Elektronika

Mulai Baca

Raspberry Pi, komputer super kecil yang satu ini sekarang begitu terkenal dan banyak sekali diminati oleh orang di seluruh dunia. Mulai dari para freak, mahasiswa hingga anak TK sudah mulai bermain dengan perangkat multifungsi ini. Namun, dibalik kesuksesannya untuk menjangkau berbagai kalangan dari berbagai tingkat, pastinya masih banyak orang yang masih memiliki tanda tanya mengenai apa itu Raspberry Pi, dan apa bedanya Raspberry Pi dengan perangkat-perangkat Do It Yourself lainnya seperti modul development board Arduino dan mikrokontroller lainnya.

Tulisan ini ditujukan untuk pemula yang baru saja memegang perangkat Raspi mereka yang pertama. Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk berbagi pengalaman saya bermain dengan Raspberry Pi, khususnya mengenai hal-hal apa saja yang tidak boleh kita lakukan ketika bermain dengan Raspberry Pi. Serta, saya juga akan kembali mengulas sedikit tentang perbedaan mendasar antara Raspberry Pi dengan platform DIY lainnya seperti Arduino.

Dari sepuluh urutan hal-hal yang paling sering membahayakan keselamatan Raspi anda, dan membuatnya tidak bekerja sebagai mana mestinya, dimulai dari urutan yang paling umum dan pertama adalah:

1. Memilih power supply / power adapter secara ngasal dan dayanya kurang atau lebih

Ini adalah kunci utama untuk dapat menjamin Raspi anda dapat bekerja dengan semestinya. Raspi meskipun menggunakan power supply yang sangat umum (micro USB), dan tersedia sangat banyak dipasaran, namun setelah saya amati ternyata hampir lebih dari setengahnya tidak dapat mendukung keperluan daya Raspi yang sesungguhnya. Semakin baru versi Raspberry Pi, pada umumnya semakin besar pula daya yang diperlukan. Mulai dari versi pertama Raspberry Pi A dan B, hingga sekarang Raspberry Pi 3, masing-masing memerlukan kenaikan daya yang cukup signifikan. Raspi versi 1 hanya memerlukan daya minimal 700mA, namun versi 3 kini dikatakan minimal harus 1A atau untuk kestabilan bila menggunakan banyak perangkat khususnya USB itu harus 2A.

Banyaknya power supply yang tidak standar dan "CE" murah meriah yang ada dipasaran, harus menjadi bahan pertimbangan ketika memilih power supply untuk Raspi anda. Jadi bisa dibayangkan jika tidak hati-hati dan asal coba, bila salah memilih power supply, Raspi tidak akan mampu menyala dan akan mengalami kerusakan baik disisi perangkat keras maupun disisi perangkat lunak.

Kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh kesalahan ini adalah, yang paling fatal jika kita memilih power supply yang tegangannya melebihi ambang batas (5V) maka dapat membakar SoC (system on chip) atau chip utama dari Raspberry Pi, jika ini terjadi, maka alamat sudah berakhirlah umur Raspi anda. Kerusakan yang masih bisa di tolerir adalah terbakarnya sekering pengaman regulator daya, jadi kalau ini terjadi sekeringnya masih bisa diganti dengan disolder dengan yang baru. Kerusakan yang bisa dibilang tidak fatal sama sekali jika dilihat dari sisi perangkat keras, namun bisa membuat repot dan dapat dikatakan sangat fatal dari sisi perangkat lunak adalah rusaknya atau korupnya memory SD card / Micro SD card Raspi.

Bisa dibayangkan apabila memory card Raspi mengalami kerusakan, sistem operasi akan rusak dan Raspi tidak akan dapat booting (hanya lampu menyala dan layar menghitam), jika ini terjadi maka akan cukup membuat kita repot karena harus menginstal ulang, apa lagi adanya kehilangan file-file penting seperti kode program dan yang lainnya, tentunya itu adalah sebuah mimpi buruk yang benar-benar harus dihindari.

2. Colok Raspi ke USB PC / Laptop / Komputer untuk menyalakannya

Ini juga sama dengan yang nomer satu, kita kadang terlalu malas untuk mencari power supply dan ketika melihat ada USB port nganggur di PC kita, kita menggunakannya untuk menyalakan Raspi. Akibat dari kesalahan ini adalah sama dengan poin nomer satu, khususnya hilangnya data karena memory card korup. Hal ini disebabkan karena USB pada PC umumnya hanya dapat memberikan daya sebesar 500mA maks, dan Raspi perlu minimal 700mA (Raspi saja lho, kalau ada perangkat tambahan yang terhubung ke Raspi maka perlu daya lebih besar lagi).

3. Sering colok cabut memory card & write / flash / clone memory card

Slot memory card pada Raspi 1 (SD Card) sangat mudah kendor, kalau sudah kendor maka senggol dikit sudah lepas. Ini dapat menyebabkan korup dan kerusakan pada file-filenya. Selain karena sering colok cabut, memory card pada Raspi juga akan dengan mudah rusak karena faktor umur dan jumlah baca/tulis yang telah terlampaui. Disini perlu diingat bahwa apapun memiliki masa pakai termasuk memory card, jika terlalu sering menghapus, mengganti atau menginstal ulang sistem pada memory card maka akan memperpendek umurnya. Hal ini juga termasuk pada tingkatan yang lebih lanjut, seperti menjalankan program yang terlalu sering melakukan penulisan ke SD card, misal program logging dan downloader.

4. Overclock CPU dan Memory Raspi

Para freak pastinya tidak mungkin untuk tidak mencoba trik yang satu ini. Trik ini dapat membuat Raspi kita dua bahkan empat kali lipat lebih cepat dari kecepatan normalnya. Dengan melakukan overclock, kita memacu kinerja mesin Raspi, khususnya CPU dan memory untuk dapat menyelesaikan pekerjaan (task) dengan tempo yang lebih cepat. Akibatnya, Raspi akan bekerja jauh lebih cepat dan tentunya jauh lebih panas hingga panasnya dapat membuat air mendidih dan membuat telur menjadi telur dadar gosong.

Efek samping dari overclock adalah borosnya daya, sehingga apabila power supply tidak mencukupi akan menimbulkan masalah seperti pada poin nomer satu. Efek samping yang paling fatal adalah timbulnya panas yang sangat besar. Jika kita ngasal, dan main setting overclock tanpa mempertimbangkan kebutuhan daya, dan tanpa mempersiapkan pembuangan panas seperti penggunaan kipas, heatsink dan metode pendingin lainnya, sudah tentu, Raspi kita akan gosong dalam hitungan menit ketika diberikan beban proses yang besar. Overclock menyebabkan kerusakan data karena kurangnya integritas, terutma karena kurangnya daya, dan yang paling fatal adalah terbakarnya SoC karena kepanasan.

5. Colok USB sebanyak-banyaknya, bila perlu pakai sepuluh unpowered USB Hub

Inilah, kesalahan yang cukup maruk. Hahaha. Kita ingin pasang ini, kita ingin pasang itu, tapi karena Raspi kurang USB portnya, kita pasangi USB Hub yang tanpa daya / unpowered. Perlu diingat, semua perangkat USB yang terpasang ke Raspi akan menggunakan daya Raspi yang didapat dari satu-satunya sumber daya, yaitu power supply Raspi sendiri. Kembali lagi ke poin nomer satu, jika power supplynya tidak kuat maka alamatlah Raspi akan mati paksa karena dayanya tersedot habis.

Sebaiknya, gunakan USB Hub yang memiliki eksternal power. Jadi USB Hub ini memang memiliki sumber daya sendiri, biasanya dia punya colokan listrik yang bisa dicolokkan ke tembok. Jadi perangkat USB yang terhubung ke Hub tersebut tidak mengambil daya lagi dari Raspi.

6. Ketika ingin mematikan Raspi, tidak usah repot-repot shutdown langsung cabut saja kabel powernya

Tindakan malas yang pada akhirnya menyebabkan kita mendapatkan kerjaan lebih karena memory Raspi korup. Ya, tindakan yang tidak terpuji ini akan menyebabkan memory card Raspi anda korup. Akibatnya, Raspi tidak akan menyala karena sistemnya rusak, filenya hilang dan pada akhirnya anda akan direpotkan dengan menginstal ulang, dan merecover file-file yang hilang. Sungguh benar-benar suka mengambil "pekerjaan lebih".

7. Menyalakan Raspi secara langsung melalui pin GPIO

Ini adalah salah satu teknik bypass pengaman daya / power regulator, jadi kita menyalakan Raspi tidak melalui port micro USB seperti yang seharusnya namun kita menyolokan kabel daya langsung ke pin GPIO Raspi (5V & GND). Ini biasanya dilakukan bertujuan untuk menyalakan Raspi tanpa menggunakan power regulator sehingga arus/ampere nya bisa digunakan secara penuh. Selain itu, teknik ini juga digunakan ketika kita tidak memiliki kabel mikro USB, tapi punya power supply eksternal yang memiliki regulasi daya 5V atau menyalakan Raspi menggunakan batre.

Dibalik itu, sebenarnya teknik ini adalah teknik yang sangat berbahaya. Sebaiknya, jika kita tidak punya alasan kuat untuk menyalakan Raspi langsung dari pin GPIO, maka jangan lakukan ini. Karena pin GPIO itu tidak memiliki regulator daya, atau regulator daya akan terbypass yang artinya jika ada sedikit saja letupan daya atau lonjakan, maka Raspi kita akan tamat riwayatnya.

8. Menggunakan GPIO secara sembarangan dan tidak menggunakan pull-up / pull down resistor

Pin GPIO pada Raspi adalah pin yang sangat riskan, tidak seperti pin pada Arduino yang memiliki banyak pengaman. Sedikit salah pada pemasangan/pengkabelan pada pin GPIO Raspi akan membakar SoC Raspi secara langsung, khususnya bagian DMA (Direct Memory Access). Ketika bekerja dengan GPIO, sebaiknya kita menggunakan yang namanya pull-up / pull-down resistor, selain untuk melakukan penstabilan nilai input (HIGH/LOW), penggunaan resistor untuk tujuan ini dapat meminimalisir lonjakan arus yang membahayakan Raspi.

9. Menghubungkan perangkat ke GPIO ketika Raspi masih menyala

Ini adalah tindakan yang sangat nekat. Kenekatan ini umumnya disebabkan karena kemalasan dan nafsu yang terlalu besar dan tidak dapat ditahan untuk segera memasang dan mencoba perangkat/modul ke GPIO Raspi. Kenekatan ini ketika gagal dapat berujung maut untuk Raspi, dan kefrustasian bagi yang punya. Jadi, pastikan jika ingin melakukan modifikasi ke GPIO Raspinya di matikan dulu melalui proses shutdown yang benar, karena kita tidak tahu kalau status/state dari pin Raspi itu bagaimana ketika sudah dinyalakan, bisa saja nilainya berbeda. Terutama masalah daya dan tegangan logika / logic voltage yang harus diperhitungkan terlebih dahulu jika tidak ingin Raspi modar dibawah pengaruh nafsu sesaat.

10. Menghubungken Raspi dan Arduino atau mikrokontroler/modul lainnya yang memiliki tegangan logika / logic voltage yang lebih tinggi secara langsung melalui pin GPIO

Nah ini dia, kesalahan yang cukup sering dilakukan dan berakibat fatal. Ketika kita menghubungkan modul seperti Arduino dan kontroler yang memiliki tegangan logika lebih tinggi dari Raspi (> 3.3 Volt). Perlu diketahui kalau kebanyakan tengangan kerja yang digunakan oleh modul mikrokontroler itu masih diangka 5V. Jadi bisa dibayangkan apa yang terjadi ketika SoC Raspi yang super kecil itu dijejali logic voltage hampir dua kali lipat tegangan yang bisa ia tangani... wuuuzzzz... angus deh.

Sebaiknya kita mempertimbangkan dahulu penggunaan pembagi tegangan / voltage divider. Perbedaan tegangan logika ini bisa diatasi dengan menggunakan voltage divider, dan yang paling murah adalah dengan memanfaatkan resitor untuk membuang tegangan yang berlebihan dan mengambil seperlunya saja. Atau juga bisa menggunakan modul khusus yang bertugas mengkoversi tegangan logika yang bekerja agar kedua modul yang berbeda tersebut dapat saling berkomunikasi, yaitu modul logic converter.

Perbedaan Dasar antara Raspberry Pi dan Arduino

Banyak orang yang telah paham kegunaan masing-masing bermain dengan Raspi dan Arduino sebagai satu kesatuan, namun banyak juga orang yang membandingkan antara Raspi dan Arduino sebagai suatu alat yang selevel, dan kemudian berkata mendingan menggunakan Arduino karena harganya jauh lebih murah ketimbang Raspi. Tapi ketika dia berkata demikian saat dia ingin membuat sebuah set lengkap yang berisi server-server sistem operasi dan aplikasi pengolahan citra untuk deteksi plat nomer kendaraan dengan kamera sebesar 5MegaPixel maka apa yang dia katakan lebih murah sesungguhnya adalah suatu keironisan dibalik ketidaktahuan.

Membandingkan Raspi dengan Arduino sesungguhnya sama dengan membandingkan mana yang lebih baik antara kalkulator dengan Smart Phone. Hanya sesimpel itu.

Semuanya tergantung dari tujuan kita, apakah ingin menghitung saja dengan cepat. Atau ingin browsing internet, muter film, sms, nelpon, chatting, cek email, bahkan juga buka kalkulator?

Sama seperti Raspi & Arduino. Gunakan Arduino ketika kita ingin bermain dengan perangkat keras pada level rendah yang memerlukan perhitungan realtime. Seperti sensor, aktuator, tombol-tombol, saklar dan sebagainya.  Gunakan Raspi ketika kita ingin bermain di tingkat yang lebih halus. Seperti membuat program interface dari sensor-sensor dan aktuator yang terhubung ke Arduino sehingga bisa dimonitor dan dikontrol melalui smartphone via internet, melakukan mengolahan citra, membuat gateway ke internet, membangun server, web, dam sebagainya. Kita akan perlu prosesor dan memory dari Raspi yang besar untuk masalah itu, tapi untuk masalah pada tingkatan perangkat keras maka biarkan Arduino yang menangani. Karena Arduino dan mikrokontroler module lainnya punya banyak kemampuan untuk itu, seperti misalnya pengaman atau regulator daya untuk mencegah kesalahan pemasangan yang tidak ada pada Raspi. ADC untuk mengkonversi / membaca data analog dan sebaliknya.

So.. itulah ringkasan dari 10 hal yang dapat merusak dan menyebabkan Raspi tidak dapat berjalan dengan semestinya, dan ulasan singkat tentang perbedaan antara Raspberry Pi dengan Arduino. Jika anda memiliki tambahan, ayo bagikan di kolom komentar di bawah... semoga bermanfaat, tentunya untuk pencegahan bukan untuk dipraktukan :D

Aditya Suranata

Tentang Penulis, Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di Miarana DIY kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

lihat artikel lain oleh Aditya Suranata

Artikel Lainnya

Kategori Tulisan

E-Book Terbaru

Teknik Antarmuka MATLAB dan Arduino

Teknik Antarmuka MATLAB dan Arduino - Cover.jpg
Pelajari konsep yang sangat luar biasa antara visualisasi, analisis dan komputasi yang ditawarkan MATLAB dengan Platform Arduino sebagai perangkat...
Jumlah Halaman:
411 Halaman

Video Terbaru

Belum Puas ? Mari Kita Saling Bicara


Join Forum Diskusi MiaranaDIY untuk berdiskusi dengan respon cepat mengenai berbagai macam tutorial hingga ulasan yang terdapat di blog ini. Untuk berlangganan artikel terbaru silahkan Like & Follow Facebook Page MiaranaDIY dan Follow Twitter @MiaranaDIY