Anda di sini

Ilmu Umum

Permainan Tradisional Sebagai Upaya Meminimalisir Sifat Individualis Pada Anak

Aditya Suranata - 13 November 2015 12:52:25 0

Perkembangan ilmu pengetahuan mampu menciptakan alat permainan mutakhir yang bersifat otomatis dan menggunakan tombol-tombol, seperti internet, video games, dan alat permainan elektronik lainnya. Seperti misalnya video game, anak-anak hanya akan terpaku dengan permainan yang mereka mainkan, semakin lama semakin merusak mata dan mengautiskan mereka dengan kesibukanya sendiri. Permainan mutakhir tersebut mempunyai dampak tidak baik dalam sikap sosialisasi anak karena menjadikannya individualis, hal ini menghambat pengembangan keterampilan sosial karena tidak ada interaksi yang kreatif.

Permainan Tradisional merupakan permainan yang berkembang sesuai dengan budaya masyarakat dan diciptakan sebagai mainan anak-anak untuk mengisi waktu luang. Media permainan tradisional pun diciptakan seperti congklak, kelereng dan bekel sebagai pelengkap dari permainan tradisional. Dampak positif dari adanya permainan tradisional diantaranya kecerdasan emosional anak dapat ditingkatkan. Peningkatan kecerdasan emosional dapat terlihat dari keterampilan anak membuat permainan dari berbagai bahan yang tersedia di sekitarnya. Sensorimotor semakin terasah dan proses kreativitas yang merupakan tahap awal untuk mengasah daya cipta anak memperoleh ruang pertumbuhan. Hal yang terpenting adalah anak mulai mengenal model pendidikan partisipatoris, meningkatkan kemampuan sosial dan meningkatkan kemampuan berempati.

Dalam permainan tradisional yang segala sesuatunya bersifat alamiah, dimana tidak ada setting yang dipersiapkan, anak menjadi lebih banyak mendapat kesempatan mengeksplorasi berbagai media yang tersedia alami sebagai dasar berpikir kreatif. Keanekaragaman jenis permainan tradisional yang menggunakan bahan alami (bambu, kertas, kayu, tanah, batang tanaman, daun-daunan, jerami, batu, dll), mampu memberikan rangsangan sensorimotor yang kaya, baik dari tekstur, ukuran berat dan bentuknya yang beragam. Lain halnya dengan alat-alat permainan sekarang yang ditawarkan industri pabrik mainan, yang tidak mendorong anak menjadi seorang kreator tetapi lebih menggiring anak menjadi operator, yang memanfaatkan kehadiran teknologi canggih seperti komputer, internet atau play stations, yang membuat banyak anak minim melakukan kontak dengan dunia luar. Sedangkan dalam permainan tradisional, anak lebih banyak dirangsang bermain dengan cara berinteraksi dengan orang lain di dalam kelompok.

Di dalam interaksi kelompok terjadi proses sosialisasi yang mengajarkan pendidikan nilai-nilai luhur nenek moyang melalui aturan main, yang merupakan jembatan untuk berinteraksi dengan dunia yang lebih luas di kemudian hari. Dengan demikian, tidak dapat ditolak lagi bahwa permainan tradisional ini perlu dikembalikan fungsinya, sebagai salah satu sumbangan bagi pembentukan karakter dan identitas manusia Indonesia yang unggul dan tanggap terhadap perubahan tuntutan zaman tanpa tercabut dari identitas akar budayanya. Permainan tradisional dapat menjadi peminimalisir sifat individualis pada anak, karena mereka dapat secara langsung melatih emosi, kreatifitas dan sosial mereka.

2.734
Image

Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di TutorKeren.com kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

Artikel Menarik Lainnya
Mari Gabung

Halo Emo 51 , Ada yang ingin disampaikan? Jangan sungkan untuk gabung diskusi ini. Silahkan Login dulu atau Daftar baru.