Anda di sini

Ilmu Umum

Udah Kenal Sama Yang Namanya Ego Belum ? Sini Kenalan Dulu

Aditya Suranata - 20 Desember 2015 23:58:53 0

Malam minggu kemarin benar-benar suntuk, cuaca mendung dari pagi hingga malam ikut membuat suasana hati jadi murung. Setelah sekian lama guling kiri guling kanan dan tak kunjung terpejam, padahal tubuh lelah pulang kerja kedinginan, sore itu gw putuskan untuk mencari bahan bacaan. Nggak pakai lama, Firefox di layar ponsel sudah menunjukan tab dengan lingkaran putarnya yang menandakan ia sedang memuat halaman tujuan, hmm.. SFTH, sub forum dari forum termansyur sejagat Indonesia.

Entah sejak kapan gw demen jadi SR disono, haha.. ya selain emang suka baca-baca cerita dari para master disana yang menurut gw sangat berkualitas dan inspiratif, gw juga suka nemuin diskusi-diskusi aneh bin banyol hingga kadang sukses bikin gw nyengir sendiri. Dari sekian banyak yang gw baca, ada satu diskusi yang sangat menarik perhatian, ya.. ada seorang yang sedang buka topik mengenai Ego. Suatu bahasan yang menurut gw brilian banget, dan layak untuk diangkat dan bagikan kepada teman-teman semua.

Dimana ego gw saat ini? Apa yang sebenarnya dapat gw jadikan pelajaran dari ego gw? Apa ego itu penting? atau sama sekali tidak penting dan bahaya sehingga harus dilenyapkan dari diri gua?

Minggu lalu, gw ngalamin sendiri. Ketika ada temen minta tolong ke gw untuk benerin laptopnya yang tiba-tiba gak mau login. Rabu malem dia sms ke gw, "Pokoknya besok harus kesini, gak mau tau, penting laptop gw problem lg."

What? Otak gua yang dari tadi emang lagi pusing mikirin Raspi 2 yang kagak mau booting, gara-gara gw pakai eksperimen sistem anti korup tapi setelah gw coba ternyata malah kagak mau idup dan berjam-jam salahnya kagak ketemu-ketemu... arghhh.... ditambah lagi permintaan tiba-tiba yang menurut gw sangat tidak beretika itu. Dan akhirnya gw bales singkat aja dengan "ok".

Setelah mandi dan melakukan kewajiban, gw buka lagi tuh sms... gw baca dan resapi. Jujur aja gw berharap kalau ada orang yang minta bantuan ke gw itu ngomonggnya kayak gini: "Malem Dit, besok sibuk gak? Pulang kerja mampir kerumah ya, mau minta tolong cekin laptop aku.. makasi.." tsahhh...

tp kok malah lebay ya.. hahh..

Satu yang langsung gw sadari, ada mas ego yang menjalari diri gw ketika gw menganggapnya "gak beretika". Gak mau pusing lagi karena dari tadi gw udah pusing, akhirnya gw tinggal tidur biar besok pagi bisa bangun dengan segar.

Usai makan siang, setelah dari pagi berkutat depan layar, gw sms dia lagi buat mastiin jamnya.. lama gw tunggu nggak ada jawaban, udah males palingan gak jadi dulu juga sempet begini ujung-ujungnya gak jadi dan buang-buang waktu.

Hmm.. sampai sore gw pulang juga gak ada jawaban.. gw tungguin lagi 15 menit hingga tinggal gw sendiri di kantor nggak ada jawaban juga, oke fix gw ngambil kesimpulan berarti gak jadi. Tanpa basa basi lagi gw langsung masukin hp ke tas, ambil motor dan jalan pulang.

Perjalanan pulang yang biasanya cuma 20 menit, karena mampir dulu ke tukang jarit dan supermarket jadi lama. Ketika gw sampai rumah jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan. Gw langsung mandi, dan segala rutinitas lainnya sampai jam 10. Fiuhh capek,, sambil lunglai gw ngerogoh hp yg tadi gw taruh dalem tas, layarnya sudah tidak bergeming alias mati. Lupa gw cas.

Beberapa lama sambil tiduran gw nyalain tuh hp yg udah keisi separuh, dan betapa kagetnya gw liat belasan miscall dan sms masuk dari teman gw tadi. "Jadilah, aku seharian dirumah. Km dimana? Aku tungguin kok gak dateng-dateng?" "Dit jadi kesini gak? ini lapoptnya ada data yg mau aku pake besok... pls" "Kalo emang gak bisa kesini bilang dari kemarin! kn aku bisa minta tolong temen!!." hah.. what i've done

gw bales dengan jawaban "Dari tadi siang kn udah tak sms, jamnya jam berapa. Krna gk ada kabar ya tak kira gak jadi. Trus skrng mau gimana? gw udah dirmh sih, baru aja nyampek"

hah,,,sumpah perasaan gw gak enak. Tapi dari sinilah akhirnya gw bisa belajar lebih jauh lagi tentang EGO. Dan berikut gw jabarkan satu persatu dari apa yg EGO ajarkan ke gw:

1. Selalu sadar diri agar tidak menunjukan kita selalu benar dan orang lain salah.

Sifat pertama dari ego adalah dia akan membuat lo merasa diri selalu benar.

Sungguh memang gw gak merasa salah ketika gw gak jd dateng kerumahnya. Seperti dia gak merasa bersalah ketika sms ke gw malem itu dengan bahasa yg menurut gw kurang sopan, dan besoknya gw tanya jam sampai nunggu lama untuk memastikan tapi kagak digubris.

Tapi, setelah dipikir lagi ada yang patut dipertanyakan, sejauh mana kita memaksakan bahwa kita memang yang benar?

Harusnya saat itu gw menurunkan ego gw dengan mengucapkan "maaf terlebih dahulu". Tapi sayang, otak gw lebih mulus meluncur di perosotan licin ego dengan memberikan alasan terlebih dahulu.

Setelah gw resapi, yang harusnya gw katakan waktu itu adalah "Maaf banget, Lin. Gw kira gak jd soalnya dr siang gw sms kgk d bls. Skrng gw uda di rumah nih, mau gw kesana sekarang?"

2. Lebih baik memberikan kasih sayang daripada penghakiman (compassion vs judgement, compassion far more better)

Dengan menyadari kalau kita punya ego, maka kita harus belajar untuk lebih banyak menggunakan compassion.

Gw menyadari kalau gw mudah banget menyalahkan dan mengkritik temen gw dalam situasi ini. Yang minta tolong siapa, dan yang marah-marah siapa. Minta tolong kayak merintah, ditanya kepastian jamnya malah gak dijawab, akhirnya marah-marah dibilang gw yg gak nepatin janji. Wkwkwk.. tapi wajar, repon yang biasa ya emang begitu sih..

Jadi setiap kali kita menyalahkan, mengkritik dan menjelekan orang lain itu yang mengambil peran adalah si EGO. Sayangnya kita sering tidak sadar kalau kita sedang menyalahkan, mengkritik dan menjelekan orang lain.

Termasuk ketika menumpahkan kekesalan di Faceook atau sosmed lain, itu juga bagian dari pelampiasan ego kita. Misal, "Gilak ya tuh orang, dasar manusia gak berotak, tiap hari kerjaannya ngomel gak jelas, berisik tau gak sih!" dll yg lebih parah lagi...

Menggunakan compassion berarti menggunakan kerendahan hati. Untuk tidak langsung mengkritik dan menyalahkan tetapi mencoba memahami orang tersebut:

  • Kenapa dia bisa seperti ini ya?
  • Apakah dia lagi ada masalah, atau mengalami sesuatu yg sulit?
  • Tepat gak sih kalau gw menyalahkan dia?
  • Tepat gak kalo gw buat masalah baru?
  • Tepat gak untuk menunjukan kalau kita benar dan mereka salah?

Dari apa yg gw pelajari, KEBANYAKAN, hal diatas gak tepat untuk dilakukan, lebih banyak ruginya. Jadi gw harus berterimakasih untuk orang-orang dan situasi-situasi yg sudah memicu tombol-tombol yg bisa buat gw jadi marah, kesel, kecewa, karena itu artinya gw sedang dilatih untuk lebih pandai mengendalikan diri dan mempraktekan compassion.

3. Mulai menyadari kalau kita punya EGO.

Kesalahan terbesar kita adalah kita masih belum sadar kalau EGO sedang mengambil alih diri kita.

Karena setiap kali merasa marah, kecewa, sedih ataupun kesel, reaksi pertama yang berkecamuk dipikiran kita adalah "Ini salah orang lain. Gak ada yang memperhatikan gw. Gw selalu aja jadi pihak yang salah, pihak yg menderita. Gak ada yang perhatian sama gw, dll."

Secara tidak sadar, ego telah memanipulasi sudut pandang kita sehingga menganggap kalau diri kita selalu jadi KORBAN. Dunia yang kejam terhadap kita. Contoh sederhananya ketika kita mengatakan "kenapa sih kamu selalu buat aku susah."

Padahal ketika itu, karena sudut pandangnya kita yg jd korban, jadi seberapa menderitanya diri gw, itu sebenarnya hanya EGO, karena fokusnya ke gw/diri sendiri.

4. Mulai memperhatikan kata-kata dan prilaku

Setelah menyadari kalau EGO adalah bagian dari kita, maka kita wajib menyaring kata-kata yang akan keluar dan prilaku yang akan kita lakukan.

Sejauh mana kita menempatkan diri sebagai korban, sejauh mana kita menyalahkan orang lain. Sejauh mana kita menghakimi orang lain. Sejauh mana kita merasa lebih benar daripada orang orang lain. Sejauh mana kita terlibat dalam argumen yang ingin menunjukan ke orang tersebut kalau dia salah dan kita yg benar.

Saat-saat awal kita melatih mempraktekannya memang susah-susah gampang. Maka dari itu kejadian ini buat gw ngaca lagi dan membenahi diri. Dari jawaban itu pun EGO masih terlihat jelas, meskipun untungnya tidak terlalu norak dan cemen dengan tidak mengeluarkan balasan seperti "Ditanya jam berapa siapa suruh gak bales, udah minta tolong kyk merintah, skrng malah marah-marah, salah sendiri donk!" wahh... kejam skali ya nona...

5. Meminta maaf itu don't kill you!

Karena kita sudah sadar kalau pikiran semua orang juga dinaungi oleh ego, maka meminta maaf secepatnya itu perlu.

Harus selalu dilatih, apapun yang terjadi, terlepas dari siapa yang salah dan benar, minta maaf langsung agar hati tidak terus menjauh.

Sesuai dengan quote berikut:

"Apologizing does not always mean you are wrong and the other person is right. It just means you value your relationship more than your ego."

Yang artinya kalau meminta maaf itu tidak selalu menandakan kita yang salah. Tapi ini membuktikan kalau kita lebih dewasa dan bisa mengutamakan utuhnya hubungan dibandingkan dengan ego kita sendiri. hmmm... i'm so sorry again... for that day.

6. Tidak perlu terlalu defensif. Kurangi "alasan" dan kata "tapi"

Kunci dari hidup yang bahagia adalah dengan tidak mengambil dengan hati sesuatu yg tidak perlu. Juga tidak berpikir defensif.

Setiap kali kita merasa defensif, merasa sakit hati, merasa diserang, merasa terpojok, sudah tentu itu EGO yang sedang berada dibalik kendali pikiran.

Bahkan ketika seseorang mengatakan "Dit, lo sekarang dingin banget ya. Gak asik!" Gw belajar untuk tidak mengatakan "yaa, tapi kan bisa aja lu yg__". Dengan sangat menghindari jawaban macam itu, dan menggantinya dengan "Masak sih? Dingin dalam artian apa nih? tumben lu perhatian sama gw."

7. Memonitor rasa marah, sirik, dan gak suka

Tau gak sih, "terkadang ketika kita gak suka dengan seseorang, sebenarnya secara tidak sadar kita cuma sirik aja sama tuh orang."

bener gak?

Dan setiap hari, gw coba memonitor emosi yg gw rasakan. Dan bisa dirasakan memang, ketika terasa lonjakan energi negatif, memang si EGO sedang mengambil alih kemudi diri. Jadi sebenarnya, bukan salah orang lain kalau kita jadi marah, sedih, kecewa, kesel, dan semua rasa gak enak tersebut. Terus kalau bukan orang lain, siapa dong yang salah? Ya kita, tepatnya si ego yang lagi pegang setir dia kesentil... haha...

8. Memonitor rasa minder atau kurang percaya diri

Hukum alam yang mesti selalu dicamkan, tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak memiliki fungsi / tugas. Termasuk si EGO! dia diciptakan juga punya fungsi / tugas coy... bukan cuma yg berdampak buruk, yang baik juga dia ternyata punya.

Si ego ini, gak selalu berdiri tegak atau melompat tinggi, bisa juga dia jongkok atau bahkan jungkir balik. Akibatnya? yah diri lo bakalan merasakan yang namanya minder atau gak-enakan. Gak pe-de.

"Kenapa ya gua cuma gini-gini aja."

"Kok gw kagak berani ngomong ama cewek ya."

"Gw gak mungkin jd orang sukses, lewat depan orang rame aja gw takut."

Nahhh... lucu gak tuh, kadang si EGO buat kita jadi merendahkan diri, kadan juga jadi over meninggikan diri. Bahkan karena terlalu minder kita jadi arogan. Baru punya kenalan yg terkenal atau berpengaruh, udah deh kita menggembor-gemborkan kalau kita punya hubungan ama tuh orang. Macam merasa pe-de karena babenya jendral koprol.

Gak sedikit juga, arogan hingga maksain makek barang berkelas, meski hasil dari ngutang.

9. Lebih baik terlambat dibandingkan tidak sadar sama sekali

Kalau dihitung-hitung, lebih sering mana yang pegang kemudi dari diri lo, si ego apa si soul ?? haha... jawabannya mungkin si ego, terutama buat yang masih diawal.... dan sadarnya telattt XD

Dan dari yg gw pelajari, itu sama sekali bukan masalah kok... Biggrin

Karena yang terpenting, setelah gw "sadar" apakah gw mau berubah dan membenahi diri? Apa gw minta maaf dan berorientasi memperbaiki hubungan?

10. Belajar membedakan antara pasif, pasif-agresif, agresif dan asertif

Ini harus dicerna sedikit agak keras.

Pasif itu sifatnya minder, gak enakan, gak pe-de atau dengan kata lain i am not okay, you are okay. Lo terlalu merendahkan diri, dan membiarkan orang lain "menginjak", meremehkan dan tidak menghargai lo.

Agresif itu hampir sama dengan arogan kebalikannya pasif, i am okay, you are not okay. Lo terlalu songong, sampai tidak bisa menghargai orang, suka nginjak2 orang, mengkoreksi orang dengan menyindir dan mempermalukan.

Pasif Agresif <-- ini nih yang paling bikin sakit hati, langsung ke contoh aja:

  • Komplain ketika ada permintaa dari orang lain dan bukan menunjukan perasaannya langsung.
  • Sengaja berbuat buruk
  • Berpikir bahwa orang sengaja memojokkan dia
  • Selalu merasa tidak adil
  • Mengkritik dalam bentuk pujian (sarkas)
  • Memberikan silent treatment, alias di diemin, membisu

Asertif adalah kondisi ego yang 'sehat', dan kondisi ini lah yang paling sering mental dan melonjak naik ke mode agresif Biggrin


Oke, jadi kesimpulannya adalah ego itu sering mendapatkan konotasi negatif, dan dari yg gw pelajari dan pahami, ego itu bagai dua sisi koin, api panasnya yang sangat powerful dan penuh tenaga bisa jadi positif, dan disisi lain karena terlalu powerful dan tak terkendali bisa membakar habis dan jadi negatif. Ego itu positif ketika bisa mentenagai rasa percaya diri, membuat kita lebih asertif dan berani menyuarakan pendapat dan pemikiran kita. Di lain sisi, ego menjadi negatif ketika kita secara sadar dan tidak sadar menggunakannya untuk merendahkan orang lain dan merusak hubungan dengan orang lain.

Tujuan kaca diciptakan bukan cuma untuk membantu kita melihat penampilan luar... tapi agar kita juga bisa melihat diri kita dibagian dalam. Belajarlah berkaca ke dalam diri sendiri. Belajar sadar diri. Mengendalikan diri.

Seperti kata Marianne Williamson,

"The ego seeks to divide and separate, Spirit seeks to unify and heal."

Selama kita masih merasa terpisah dengan mahluk lain, ego is taking control... so watch it and take it back!

Referensi: http://www.kaskus.co.id/thread/548d4e2e1a9975f7528b456a/10-pembelajaran-...

1.531
Image

Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di TutorKeren.com kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

Artikel Menarik Lainnya
Mari Gabung

Halo Emo 51 , Ada yang ingin disampaikan? Jangan sungkan untuk gabung diskusi ini. Silahkan Login dulu atau Daftar baru.