Vaksin Gratisan HPV Virus Pencegah Kanker Serviks, Amankah?


Aditya Suranata 06 Des 2016 Ilmu Umum

Mulai Baca

Bukti baru meruntuhkan klaim-klaim mengenai keamanan dan efektifitas dari Vaksin HPV.

Kilasan isi tulisan

  • Review sistematis dari percobaan-percobaan pra- dan pasca-perijinan dari vaksin HPV memperlihatkan bahwa efektifitasnya tidak hanya dilebih-lebihkan (melalui penggunaan cara pelaporan selektif dan "cherry picking" data) tetapi juga sepenuhnya tidak terbukti.
  • Hingga pertengahan Agustus 2012, VAERS telah menerima 119 laporan kematian berkaitan dengan vaksinasi HPV. Efek samping yang dilaporkan juga termasuk: 894 laporan cacat permanen dan 517 efek samping yang mengancam nyawa.
  • Laporan efek samping dari kelainan serviks dan kanker serviks terjadi empat hingga lima tahun setelah vaksinasi HPV, dan telah meningkat pesat antara 2011 dan 2012.
  • Studi berskala luas mengenai HPV melaporkan bahwa vaksin HPV mengurangi infeksi-infeksi HPV-16 hanya 0.6% pada wanita yang divaksin versus yang tidak divaksin.
  • Infeksi HPV beresiko tinggi telah didiagnosis lebih sering terjadi pada wanita yang divaksin hingga lebih dari 6% dibandingkan wanita yang tidak divaksin, dan peningkatan tingkat infeksi oleh tipe HPV karsinogenik pada wanita yang divaksin telah diketahui menjadi 4-10 lebih tinggi dari pada pengurangan infeksi HPV 16/18.

Oleh Dr. Mercola

Saat ini ada dua vaksin HPV yang telah beredar di pasaran, tetapi jika terdapat hal apapun yang berkaitan untuk bukti ilmiah, keduanya tidak akan dipromosikan segencar sebagai mana adanya.

Pertama, Gardasil, telah diijinkan oleh FDA (Badan Administrasi Obat & Makanan Amerika Serikat) pada tahun 2006. Hingga sekarang telah dipromosikan sebagai vaksin rutin untuk para gadis dan wanita antara rentang umur 9-26 tahun di Amerika Serikat. Pada tanggal 25 Oktober 2011, Komite Penasihat Praktik Imunisasi CDC juga memvoting untuk merekomendasikan pemberian vaksin HPV kepada pria antara umur 11 hingga 21 tahun. Vaksin HPV yang kedua, Cervarix, telah diijinkan beredar pada tahun 2009.

Telah diketahui bahwa vaksin HPV, faktanya, tidak dapat mencegah kanker secara efektif, lalu kemudian kesehatan para wanita muda (dan sekarang juga pria) sedang diekspos pada resiko tinggi yang tidak masuk akal. Dan secara tepat begitulah kesimpulan yang dihasilkan oleh studi terkini...

Review dari Percobaan-percobaan HPV Menyimpulkan Bahwa Efektifitasnya Seluruhnya Tidak Terbukti

Dipublikasikan secara online pada 24 September,[1] sebuah review sistematis mengenai percobaan-percobaan pra- dan pasca-lisensi dari vaksin HPV oleh tim dari Kanada memperlihatkan bahwa efektifitasnya tidak hanya dilebih-lebihkan (melalui menggunakan sistem pelaporan selektif atau "cherry picking" data) tapi juga sepenuhnya tidak terbukti.

Kesimpulannya menyatakan dengan cukup jelas:

"Kami melaksanakan sebuah review sistematis mengenai percobaan-percobaan pra- dan pasca-lisensi dari vaksin HPV untuk menilai bukti dari efektifitas dan keamannya. Kami menemukan bahwa desain percobaan klinis vaksin HPV, dan interpretasi data dari kedua hasil akhirnya dalam hal keampuhan dan keamanan, sebagaian besar tidak memadai. Sebagai tambahan, kami mencatat adanya bukti pelaporan selektif mengenai hasil dari percobaan-percobaan klinis (misal, pengecualian dari angka keampuhan vaksin untuk mempelajari subkelompok di mana keberhasilan mungkin lebih rendah atau bahkan negatif dari publikasi peer-review).

Dengan demikian, meluasnya optimisme berkaitan dengan keuntungan jangka panjang dari vaksin HPV nampaknya bergantung pada beberapa asumsi yang tidak terbukti (atau salah satunya dengan bukti faktual yang tidak masuk akal) dan salah tafsir mengenai data penting yang tersedia.

Sebagai contoh, klaim bahwa vaksinasi HPV akan menghasilkan sekitar 70% pengurangan kanker serviks dibuat meskipun fakta bahwa data uji klinis belum menunjukan sampai saat ini bahwa vaksin benar-benar dapat mencegah satu kasus kanker serviks (membiarkan kematian karena kanker serviks), tidak juga bahwa pengganti ekstrapolasi berbasis penanda saat ini yang terlalu optimistik dibenarkan.

Begitu pula, gagasan bahwa vaksin HPV memiliki profil keamanan yang mengesankan hanya didukung oleh uji keselamatan yang memiliki desain yang sangat cacat dan bertentangan dengan terkumpulnya bukti-bukti dari database pengawasan keamanan vaksin dan laporan kasus yang terus menghubungkan vaksinasi HPV pada efek samping serius yang merugikan (termasuk kematian dan cacat permanen).

Dengan demikian kami menyimpulkan bahwa pengurangan lebih lanjut dari kanker serviks mungkin dapat dicapai jauh lebih baik dengan mengoptimalkan skrining serviks (yang tidak membawa resiko tersebut) dan menyasar faktor-faktor lain dari penyakit tersebut bukannya dengan ketergantungan pada vaksin dengan profil keampuhan dan keamanan yang dipertanyakan." [Penekanan]

Ini benar-benar membingungkan, dan sebuah bukti nyata atas konflik kepentingan memanipulasi pedoman kesehatan masyarakat, bahwa vaksin HPV telah menerima suatu dukungan kuat dari petugas kesehatan dan legislator-legislator sejenis.

Menelusuri kembali ke tahun 2007, hanya setahun setelah pengenalan Gardasil ke pasar, Gubernur Texas Rick Perry bergerak terlalu jauh dengan melakukan penandatanganan sebuah perintah eksekutif yang memerintahkan agar anak kelas enam SD wajib untuk divaksinasi terhadap HPV. Tidak mengejutkan, mantan kepala staf Perry kemudian jadi pelobi Merck (perusahaan dibalik Gardasil). Untungnya, Legislatif kemudian membatalkan perintahnya.

Sangat penting untuk menyadari bahwa vaksin HPV hanya melindungi terhadap pilihan set kecil virus HPV yang dapat menyebabkan kelainan sel yang dalam beberapa kejadian dapat menyebabkan kanker serviks, jika kelainannya tidak teridentifikasi dan ditangani. Jadi pada kenyataannya, adalah hal yang salah untuk menamainya vaksin anti-kanker. Dan itu secara masif menyesatkan, jika merupakan kebohongan yang disengaja, untuk mengklaim ia "akan" menyelamatkan nyawa.

Sekarang (2012), enam tahun setelah ijin edar, kita MASIH secara absolut tidak memiliki bukti, bahwa tidak secuilpun bukti yang sebenarnya, menunjukkan bahwa Gardasil benar-benar mencegah kanker dalam jangka panjang dan / atau mengurangi angka kematian kanker serviks. Apa yang kita miliki sebaliknya, adalah puluhan ribu laporan efek samping dan 122 kematian, pada pertengahan Agustus.

Media Mendasarkan Laporan Pada Studi Merck, Namun Mengabaikan Ulasan dari Kanada

Apa yang membuat masalah ini begitu menyebalkan adalah lengkapnya kekurangan transparansi mengenai potensi resiko dari vaksin ini. Hanya sehari setelah rilis online dari featured Candian review, yang mana melenyapkan klaim dari sisi keamanan dan efektifitasnya, Wall Street Journal[2]malah melaporkan bahwa:

"Studi baru dari Merck and Co menunjukan vaksin kanker serviks Gardasil berhubungan dengan terjadinya efek samping seperti pingsan pada hari inokulasi (penyuntikan) dan infeksi-infeksi kulit dua minggu setelahnya, namun tidak ditemukan adanya kaitan dengan masalah-masalah serius lainnya. ...studi Gardasil - dipimpin oleh Kaiser Permanente Vaccine Studi Center di Oakland, California - ditunjuk oleh Badan Administrasi Obat dan Makanan Amerika Serikat dan European Medicines Agency untuk menyediakan tinjauan tambahan pada keamanan vaksin terhadap kelompok besar orang. Pembiayaan diberikan oleh Merck."

...Lebih dari 200 kategori penyakit seperti asma, diabetes, kelainan sistem saraf dan kondisi medis lainnya seperti gangguan perhatian defisit, sakit punggung dan cidera lainnya diulas. Dalam kebanyakan kasus kondisi tersebut telah ada sebelum vaksin diberikan. Terdapat 14 kematian tercatat diantara gadis dan wanita pada studi itu tapi penyebabnya, termasuk kecelakan mobil, masalah jantung bawaan, bunuh diri, lupus dan pneumonia, tidak terkait dengan vaksin..."

Tidak ada satupun disebutkan ulasan dari Kanada. Begitu pula, halaman HPV WebMD,[3] yang mana telah direview oleh Kimball Johnson, MD pada 13 Agustus 2012, secara jelas mengatakan:

"Tidak ada efek samping serius vaksin HPV yang ditemukan, meskipun pingsan setelah penyuntikan telah dilaporkan pada remaja dan dewasa muda. Kadang-kadang nyeri terjadi di tempat suntikan."

Penyembunyian potensi efek samping secara terang-terangan ini membuat penulis tidak habis pikir...

Dimana integritas dan akuntabilitas jurnalistiknya? WebMD adalah situs web kesehatan dengan peringkat nomer dua yang paling sering orang kunjungi (Mercola.com adalah yang keempat), sehingga dapat dikatakan bahwa mereka memiliki pengaruh besar terhadap pilihan kesehatan yang dibuat oleh rata-rata rakyat Amerika Serikat akan menjadi persoalan. Kepercayaan orang pada umumnya adalah bahwa ia adalah acuan pertama, sumber yang paling terpercaya dari informasi kesehatan yang "independen dan objektif", namun sebagaimana penulis telah laporkan dua tahun yang lalu, situs itu faktanya secara besar dipengaruhi oleh industri farmasi.

Resiko Vaksin HPV Yang Tidak Dikatakan Kepada Anda

Hingga 13 Agustus 2012, VAERS telah menerima 119 laporan kematian setelah vaksinasi HPV,[4] begitu juga dengan:

  • 894 laporan cacat permanen
  • 517 kejadian efek samping yang mengancam nyawa
  • 9.889 kunjungan ruang gawat darurat
  • 2.781 rawat inap

Dan WebMD telah berani memberi informasi yang salah kepada publik dengan menyatakan bahwa TIDAK ada efek samping yang serius yang berhubungan dengan vaksinasi HPV! Apa yang menyebabkan orang tua tidak akan mempertimbangkan, meski potensi jangka panjangnya bahkan dapat berujung cacat permanen dan/atau kematian, layakkah setidaknya disebutkan secara singkat?

Data terbaru yang didapat oleh analis peneliti VAERS Janny Stokvis[5] juga memperlihatkan peningkatan dramatis dalam pap smears abnormal, displasia serviks, dan kanker serviks setelah vaksinasi HPV.

Perlu diketahui bahwa kanker serviks biasanya tidak akan terjadi sebelum umur 40 tahun. Berdasarkan pada data tahun 2005-2009 oleh National Cancer Institute,[6] umur median pada diagnosis untuk kanker serviks di Amerika Serikat adalah 48 tahun. Hanya 0.2 persen dari mereka yang terdiagnosis dengan kanker serviks berumur dibawah 20 tahun, jadi cukup jarang terjadi pada rentang umur ini. Telah diperkirakan bahwa 12.170 wanita Amerka akan terdiagnosis dengan kanker serviks pada tahun 2012.[7] Karena kita sedang berhadapan dengan nomor yang relatif rendah untuk memulainya, itu membuat lonjakan pesat yang lebih mengkhawatirkan di bawah semua rincian - khususnya ketika Anda mempertimbangkan bahwa vaksinnya seharusnya MENGURANGI insiden kanker.

Data berikut adalah untuk gadis berumur 14 hingga 26 tahun. [8] Berdasarkan pada hasil Stokvis, beberapa laporan abnormalitas serviks terjadi empat hingga lima tahun setelah vaksinasi HPV, jadi kita sekarang mulai melihat beberapa akibat jangka panjang, mengingat vaksinya sekarang (2012) telah beredar di pasaran selama enam tahun.

 March 2011March 2012% increase in 12 months
Abnormal pap smear 384 479 24.74 %
Cervical dysplasia 138 190 37.68 %
Cervical cancer 41 50 21.95 %

Data baru ini mendukung kecurigaan sebelumnya bahwa vaksin HPV mungkin sebenarnya meningkatkan resiko Anda terkena kanker serviks. Penulis menulis mengenai kemungkinan ini dua tahun yang lalu. Informasinya didapatkan langsung dari Merck (perusahaan yang membuat vaksin) dan telah disampaikan kepada FDA sebelum persetujuan edar diberikan.[9] Berdasarkan pada riset yang dilakukan sendiri oleh Merck, jika Anda telah terpapar HPV 16 atau 18 sebelum suntikan vaksinasi, Anda meningkatkan resiko Anda mengalami cidera prakanker, atau lebih parah, sebesar 44.6 persen...

Sebagai tambahan, karena penelitian Merck mengindikasikan Gardasil juga 'menyediakan proteksi silang' terhadap strain lain dari HPV yang berkaitan secara dekat dengan HPV 16 dan 18 (dua strain yang dimasukan kedalam vaksin dari total empat strain), hal ini tentu berarti bahwa paparan awal pada dua strain tambahan itu (yang mana tidak dimasukan dalam vaksinnya sendiri) mungkin menimbulkan peningkatan resiko tambahan untuk terjadinya kanker serviks ketika dikombinasikan dengan vaksinasi.

Hingga 13 Agustus 2012, lebih dari 27,023 laporan[10] peristiwa buruk telah diajukan dengan Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) CDC.[11] termasuk 918 laporan dari pria remaja dan dewasa dengan rentang umur 9 hingga 44 tahun, yang mana telah tersuntik HPV. Perlu diingat bahwa itu hanya antara 1 dan 10 persen dari peristiwa serius, yang terjadi setelah vaksinasi, yang dilaporkan ke VAERS.[12],[13]

Sebagai tambahan, peneliti FDA mengungkap pada tahun 2009 bahkan hampir 70 persen peristiwa buruk vaksin Gardasil yang dilaporkan ke VAERS datang dari Merck, yang mana mengindikasikan bahwa mayoritas dokter melaporkan cidera dan kematian yang berkaitan dengan vaksinasi secara langsung ke si pembuat (Merck) dari pada melaporkannya ke VAERS.[14] Siapa yang tahu berapa banyak cidera dan kematian yang terjadi yang berkaitan dengan Gardasil yang tidak sampai dari Merck ke database VAERS.

Peristiwa buruk yang dilaporkan ke VAERS berkaitan dengan pasca-vaksinasi HPV termasuk:

Suara merendah Guillain-Barre Syndrome Kejang
Kelumpuhan KebutaanPankreatitis
Masalah berbicara Hilang ingatan jangka pendekKista ovarium
Pembekuan darah dan masalah jantungKeguguran15 dan kelainan janinSerangan jantung16 dan kematian mendadak

Studi Berskala Luas Memperlihatkan Vaksin HPV Tidak Efektif dan Meningkatkan Tingkat Infeksi Tipe HPV Karsinogenik pada Wanita yang Divaksin

Featured studinya sendiri merupakan berita besar, namun itu belum seluruhnya. Studi lainnya yang hasilnya mengecam juga telah diabaikan sepenuhnya oleh media dan lembaga kesehatan publik sejenis. Sebagaimana dilaporkan oleh menstruationresearch.org pada bulan Juni:[17]

"Pada January 2012, American Journal of Obstetrics and Gynecology mempublikasikan studi ATHENA HPV[18] mengumumkan hasil-hasil percobaan skrining kanker serviks, melibatkan 47.208 wanita berumur 21 tahun atau lebih tua di 61 klinik di seluruh Amerika Serikat. Penulis melaporkan bahwa pada sub kelompok dari 12,852 wanita muda, vaksin HPV hanya mengurangi infeksi sebesar 0.6% pada wanita yang divaksin vs. yang tidak divaksin.

Yang paling mengherankan adalah data yang menunjukan bahwa infeksi HPV beresiko tinggi lainnya telah didiagnosis pada wanita yang divaksin 2.6% hingga 6.2% lebih sering daripada wanita yang tidak divaksin. Faktanya, studi itu melaporkan bahwa peningkatan tingkat infeksi oleh tipe HPV karsinogenik pada wanita yang divaksin (selain dari mereka yang disasar oleh Gardasil ®) adalah empat hingga 10 kali lebih tinggi daripada pengurangan infeksi pada HPV 16/18."

Studi lainnya dari Inggris[19] dipublikasikan pada jurnal Vaccine pada 14 May 2012, menyatakan:

"Perkiraan dampak dari vaksin human papilloma virus (HPV) pada percobaan klinis dan studi pemodelan bergantung pada pengujian DNA dari spesimen sitologi atau biopsi untuk menentukan tipe HPV yang menyebabkan terjadinya cidera serviks. DNA dari beberapa onkogenik tipe HPV mungkin dapat terdeteksi dalam sebuah spesimen. Namun, hanya satu tipe yang mungkin menyebabkan cidera serviks tertentu.

Hilangnya keterkaitan dari jenis HPV penyebab kelainan tertentu bisa menimbulkan peningkatan yang jelas pada penyakit yang disebabkan oleh HPV tipe non-vaksin setelah pemberian vaksin ('unmasking')... Bisa menjadi nampak jelas adanya peningkatan maksimum dari 3-10% dalam insiden kanker serviks jangka panjang karena adanya tipe HPV non-vaksin setelah vaksinasi... Unmasking bisa menjadi fenomena penting dalam epidemiologi pasca-vaksinasi HPV, dengan cara yang sama yang telah diamati setelah vaksinasi konjugasi pneumokokus. "[Penekanan]

Bicarakan Dengan Anak Anda Mengenai HPV dan Gardasil

Ada cara yang jauh lebih baik untuk melindungi diri Anda sendiri atau anak gadis Anda yang masih muda dari kanker serviks dari pada melakukan vaksinasi Gardasil atau Cervarix, dan penting untuk memberitahukan kepada anak mengenai hal ini. Ingat, pada lebih dari 90 persen kasus, sistem kekebalan tubuh Anda dapat membersihkan infeksi HPV dalam dua tahun dengan sendirinya, jadi menjaga agar sistem imun tetap kuat itu penting.

Sebagai tambahan, infeksi HPV menular melalui kontak seksual dan penelitian[20] telah mendemonstrasikan bahwa menggunakan kondom dapat mengurangi resiko Anda terjangkit HPV hingga 70 persen, yang mana jauh lebih efektif daripada vaksin HPV! Pastikan anak-anak Anda tahu bahwa infeksi ini ditularkan secara seksual, sehingga resiko terjadinya infeksi dapat dikurangi sepenuhnya dengan pilihan gaya hidup sehat, termasuk penggunaan kondom dan menghindari seks bebas. Juga biarkan mereka tahu bahwa, meskipun mereka telah divaksin, penting untuk para gadis dan wanita tetap melakukan skrining setiap beberapa tahun untuk mengetahui perubahan leher rahim yang mungkin mengindikasikan adanya cidera prakanker karena kecil jaminannya bahwa baik Gardasil atau Cervarix akan mencegah kanker serviks..

Bicarakan Dengan Dokter Anda atau Cari yang Lain yang Akan Mau Mendengarkan dan Peduli

Jika ahli medis atau dokter Anda menolak untuk memberikan perawatan medis kepada Anda atau anak Anda kecuali jika Anda setuju untuk mendapatkan vaksin yang tidak Anda inginkan, penulis sangat mendorong Anda untuk memiliki keberanian untuk mencari dokter lain. Pelecehan, intimidasi, dan penolakan perawatan medis menjadi modus operandi pertahanan medis dalam upaya untuk mengentikan perubahan sikap dari banyak orang tua mengenai vaksinasi setelah mereka benar-benar paham dan terdidik tentang kesehatan dan vaksinasi. Namun demikian, masih terdapat harapan.

Setidaknya 15 persen dari dokter muda sekarang ini disurvei mengakui bahwa mereka mulai mengadopsi pendekatan yang lebih individual untuk vaksinasi dalam respon langsung terhadap konsen orang tua terhadap masalah keamanan vaksin.

Ini adalah berita baik bahwa terdapat peningkatan jumlah dokter-dokter muda yang berdedikasi dan cerdas, yang mana lebih memilih untuk bekerja sebagai partner dengan orang tua dalam membuat keputusan personalisasi mengenai vaksin untuk anak-anak, termasuk menunda vaksinasi atau memberikan anak lebih sedikit vaksin pada hari yang sama atau juga melanjutkan memberikan pelayanan medis kepada keluarga-keluarga tersebut, yang menolak untuk menggunakan satu atau lebih vaksin.

Jadi... luangkan waktu untuk mencari seorang dokter, yang mana memperlakukan Anda dengan cinta kasih dan respek, dan bersedia bekerjasama dengan Anda untuk memberikan apa yang benar untuk buah hati.

References:

Source: http://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2012/10/16/unproven-hpv-vaccine-safety.aspx#_edn1 | 6/12/2016 15:43 GMT+8

Catatan Kaki:

Artikel asli ditulis oleh Dr. Mercola (mercola.com di Amerika Serikat), diterjemahkan dari tautan sumber (source) diatas. Diterjemahkan atas pertimbangan informasi yang relevan mengenai keadaan terkini di lingkungan penterjemah.

Aditya Suranata

Tentang Penulis, Aditya Suranata

Aditya suka menulis, bukan hanya sekedar hobi, menulis menjadi medianya untuk mencurahkan pikiran dan perasaan. Di TutorKeren.com kebanyakan menyumbang tulisan sesuai dengan minat dan keahliannya yaitu pada kategori pemrograman dan elektronika. Selain itu juga gemar menulis mengenai hal-hal umum, seperti ilmu alam, sosial dan beberapa pengalamannya yang mungkin bisa berguna untuk orang lain.

lihat artikel lain oleh Aditya Suranata

Artikel Lainnya

Kategori Tulisan

E-Book Terbaru

Teknik Antarmuka MATLAB dan Arduino

Teknik Antarmuka MATLAB dan Arduino - Cover.jpg
Pelajari konsep yang sangat luar biasa antara visualisasi, analisis dan komputasi yang ditawarkan MATLAB dengan Platform Arduino sebagai perangkat...
Jumlah Halaman:
411 Halaman

Video Terbaru

Belum Puas ? Mari Kita Saling Bicara


Join Forum Diskusi MiaranaDIY untuk berdiskusi dengan respon cepat mengenai berbagai macam tutorial hingga ulasan yang terdapat di blog ini. Untuk berlangganan artikel terbaru silahkan Like & Follow Facebook Page MiaranaDIY dan Follow Twitter @MiaranaDIY